Setiap bertemu atau berpapasan di jalan, Sueb selalu menyapa dengan senyum ramah kepada Amir, ia pun membalasnya. Bagi Amir, selama Sueb bisa menjaga adiknya, ia tak akan ikut campur. “Kadang kasihan juga ke dia, anak yatim soalnya, ibunya jualan gorengan,” katanya.
Sampai suatu hari, ada tetangga yang melapor ke orangtua kalau Leti sering terlihat berduaan dengan Sueb. Sepulang sekolah Leti dimarahi habis-habisan sampai nangis, Amir yang melihat itu hanya bisa diam, soalnya kalau ayahnya sudah marah, tidak akan ada yang bisa melawan.
Mungkin karena trauma, Leti sampai sakit dan tak masuk sekolah. Padahal sebentar lagi akan UAS dan kenaikan kelas. Besoknya Sueb datang menjenguk sendirian, ibarat masuk lubang buaya, habis juga ia dimarahi. “Saya sudah coba ngomong baik-baik ke bapak supaya jangan kasar ke Sueb, malah saya yang dibentak,” aku Amir.
Sejak itu, Sueb dan Leti jadi jarang berduaan lagi, soalnya Amir mendapat tugas khusus setiap hari, yakni wajib mengantar jemput adiknya. Sepulang sekolah harus ada di rumah, belajar dan bergabung bersama kelas les tambahan. Singkat cerita Leti dan Sueb lulus sekolah. “Mereka kayaknya udah putus gitu, soalnya enggak pernah deket lagi,” ujarnya.
Ditambah, Leti juga diterima kuliah di kampus ternama di Kota Serang, tapi Amir memilih buka usaha di pasar, jualan sembako. Katanya sih Amir dibantu bosnya untuk modal awal jualan karena jasa-jasanya sangat rajin dan menguntungkan.
Setahun kemudian, memang ada yang berubah dari Leti, ia jadi tak semangat kuliah, kesehariannya lebih banyak di rumah. Bahkan Leti jadi sering menanyakan terkait pernikahan. Orangtua dan Amir sih awalnya tak terlalu memikirkan apa pun, malah menganggap biasa.
Hingga satu jari, Leti pulang bersama Sueb. Mereka berdua menyampaikan niat baik kalau ingin menikah, bahkan Sueb sudah membawa cincin lamaran yang bakal ia serahkan ke Leti. “Dia bilang kalau sudah nabung buat biaya nikah, disebutin tuh jumlahnya, bahkan katanya siap nyicil rumah,” kata Amir yang saat itu mendengar langsung pengakuan Sueb.
Tapi bagai sumbu disulut api, ayah dan ibu Leti langsung ngamuk, bukan hanya penolakan, tapi juga penghinaan yang diberikan atas jawaban dari lamaran Sueb. Saat itu Amir juga bingung harus melakukan apa, yang jelas, ia melihat Sueb menitikkan air mata saat dibilang orang miskin enggak pantes nikah sama Leti.
Sejak itu Leti jadi pendiam, kuliahnya pun tak dilanjutkan. Badannya semakin lama sekain kurus karena tak mau makan, hingga berjalan tiga bulan, Leti jadi sering menangis sendirian di kamar, kadang sampai teriak-teriak. Amir dan ayah ibunya khawatir dan membawa Leti ke orang pintar, tapi tak sembuh, dibawa ke rumah sakit juga tak ada hasil. “Akhirnya ya kami cuma bisa pasrah, adik saya sampai sekarang belum sembuh, masih suka nangis sendirian di kamar,” kata Amin. Ya ampun, sabar ya Kang Amir, semoga adiknya lekas sembuh. (drp/air)










