Masalahnya, ambisi China mewajibkan seluruh provinsi mengurangi penggunaan energi konvensional dalam setiap sektor perekonomian, termasuk mengurangi produksi pembangkit listrik berbasis batu bara.
Krisis listrik di China disebut-sebut akan mengancam pertumbuhan ekonomi negeri Tirai Bambu itu. Sebab, kegiatan industri dan rantai pasok terganggu akibat pemadaman listrik.
Tak sendirian, Eropa juga mulai khawatir dengan pasokan energi. Pasalnya, tarif energi seperti gas alam semakin mahal sejak September 2021. (nna-cnnindonesia-cnbc/alt)










