Soal klaim Putut bahwa dia mengundurkan diri, diakui Babay. Namun, pengunduran diri itu dilakukan sepihak oleh Putut melalui pesan WhatsApp kepada manajer. Sehingga, manajemen belum memutuskan menerima atau tidak pengunduran diri tersebut.
Di sisi lain, Putut juga sudah meninggalkan mess pelatih Perserang sebelum mengonfirmasi dugaan pengaturan skor yang dilaporkan sejumlah pemain kepadanya.
“Ketika manajemen akan mengonfirmasi peristiwa itu kepada pemain dan tim pelatih, pelatih kepala (Putut Widjanarko-red) justru meninggalkan Kota Serang. Kami menilai hal itu salah sehingga keputusan rapat manajemen adalah menolak pengunduran diri pelatih kepala dan melakukan pemecatan,” jelas Babay.
Lelaki yang akrab disapa Jibay ini berharap, percobaan match fixing yang menimpa Perserang bisa menjadi kasus terakhir dalam persepakbolaan di Indonesia. Menurutnya, praktik-praktik seperti itu merusak integritas sepak bola dan merugikan semua pihak, termasuk seluruh pecinta sepak bola di Indonesia.
“Match fixing adalah pelanggaran terbesar dalam dunia olahraga dan harus diperangi bersama. Apabila kita mengetahui adanya match fixing, tetapi dengan sengaja diam, melakukan pembiaran dan tidak melaporkan adanya match fixing, juga suatu kesalahan yang besar,” tegasnya.
“Semoga ini jadi pelajaran bagi kita semua agar ke depan tidak lagi terjadi hal-hal yang merusak integritas sepak bola. Sehingga klub, federasi, operator liga, hingga seluruh pemain fokus pada peningkatan kualitas kompetisi,” kata Babay.
Jibay mencontohkan, runtuhnya imej persepakbolaan Italia ketika didera isu calciopoli pada 2006. Masa itu adalah salah satu periode terburuk yang dialami persepakbolaan Italia, ketika sejumlah klub seperti Juventus, Lazio, Fiorentia, dan AC Milan terbukti melakukan match fixing. (don)











