Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten terus melakukan penguatan mitigasi bencana di delapan kabupaten/kota. Salah satu penguatannya yakni kesiapsiagaan menghadapi tsunami tektonik dan vulkanik perlu disosialisasikan hingga ke pelosok desa, agar dampak yang ditimbulkan akibat bencana tidak terlalu luas.
MEnurut Anggota Komisi V DPRD Banten, Umar Bin Barmawi, mitigasi bencana memerlukan infrastruktur. Pada wilayah yang rawan tsunami perlu dibangun rambu-rambu keselamatan, peta, perencanaan dan prosedur evakuasi tsunami. “Infrastruktur tersebut penting dapat terlihat jelas oleh warga ataupun pengunjung,” kata Umar yang juga menjadi narasumber penguatan Mitigasi Bencana.
Umar melanjutkan, infrastruktur tersebut tentunya akan lebih lengkap jika sarana peringatan juga tersedia. Tidak hanya sirine tsunami, wilayah pantai juga dapat memadukan pengeras suara lain seperti speaker masjid dan kentongan sebagai alat pendukung dalam menyebarluaskan informasi. “Dengan tanggap informasi, tanggap peringatan, dan tanggap evakuasi, maka risiko tsunami dapat dikurangi,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Banten Nana Suryana mengatakan, mitigasi bencana tsunami merupakan upaya pendekatan yang perlu segera dilakukan, terutama di Kabupaten Serang yang memiliki wilayah pantai yang merupakan kawasan wisata umumnya ditempati oleh penginapan, restoran, anjungan wisata, dan juga rumah warga.
“Sesuai arahan BNPB, sosialisasi dan mitigasi bencana sangat penting agar warga memiliki kewaspadaan yang membuat dirinya sadar berada pada lokasi yang berpotensi bahaya tsunami dan memahami apa yang perlu dilakukan saat bahaya tersebut berpotensi akan timbul,” kata Nana saat melakukan penguatan mitigasi bencana di Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, kemarin.
Dalam kajian ilmu kebumian, lanjut Nana, kejadian tsunami tidak hanya dibangkitkan oleh gempa bumi, namun juga dapat dibangkitkan oleh fenomena lainnya yang mengganggu kestabilan kolom laut seperti aktivitas gunung berapi yang berada di laut, longsoran yang menuju ke laut dan jatuhnya benda-benda langit yang mengarah ke laut.
“Wilayah Kabupaten Serang memiliki potensi risiko bencana tsunami dengan kategori sedang hingga tinggi. Adapun, luas wilayah yang berisiko sebesar 827 hektare dengan memiliki 4 kecamatan yang berpotensi terdampak,” bebernya. (*)











