Manager Cabang PT Jembatan Nusantara Leonardo Djoko Warsito menjelaskan, kedua kecelakaan yang menimpa kapal milik perusahaannya itu diakibatkan oleh cuaca yang buruk.
“Sebelum itu terjadi sudah ada pengumuman cuaca buruk, sehingga kita harus berhati-hati,” ujar Leonardo saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (24/11).
Pada saat kapal kandas terjadi, kecepatan angin berkisar di 45 hingga 50 nautical mile atau mil laut. Kecepatan itu menunjukkan jika angin berhembus sangat kencang.
“Saya langsung investigasi ke nahkodanya, dia sudah berupaya mati-matian, kapal itu kayak larat, anginnya kenceng arusnya kuat,” ujarnya.
Cuaca tidak kondusif terjadi hingga Rabu (24/11), hingga akhirnya kapal baru bisa lepas dari kandas sekira pukul 10.00 Wib.
“Begitu air pasang jalan sendiri, jam 10.30 bisa sandar,” ujarnya.
Begitu juga dengan kecelakaan tabrakan, dimana angin dan arus laut menyeret kapal saat akan sandar sehingga haluan KMP Marina Nusantara menyenggol buritan KMP Nusa jaya.
“Jadi posisi angker, larat, karena memang mesin mati, diikat sama lego jangkar, dia bisa muter 180 derajat,” ujarnya.











