Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Anak stunting cenderung lebih kerdil dibandingkan anak seusianya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti mengimbau ibu hamil untuk mencukupi kebutuhan gizinya. “Ibu hamil makan lebih banyak dari biasanya. Banyak makan buah dan sayur, lengkapi dengan lauk-pauk,” ujarnya.
Selain itu, ibu hamil juga harus mengkonsumsi tablet tambah darah. Selama kehamilan dan dilanjutkan sampai dengan masa nifas, mengkonsumsi tablet tambah darah dapat mencegah anemia dan menjaga system ketahanan tubuh.
Untuk mengatasi kekurangan yodium, pastikan menggunakan garam beryodium agar membantu pertumbuhan dan perkembangan janin serta mencegah bayi lahir cacat.
Setelah melahirkan, Ati mengatakan, ibu hamil juga harus melakukan imunisasi menyusui dini karena bayi mendapatkan ASI kolostrum yang kaya akan daya tahan tubuh dan ketahanan terhadap infeksi. Setelah itu, ibu harus memberikan ASI eksklusif 0-6 bulan karena kebutuhan gizi pada bayi usia tersebut cukup terpenuhi dari ASI saja.
“Pemberian ASI hingga 23 bulan didampingi MP-ASI,” terangnya. ASI terus diberikan semau bayi. Memasuki usia enam bulan, bayi perlu mendapatkan makanan pendamping ASI.
Untuk menanggulangi cacingan, ia mengimbau agar masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, mencuci tangan pakai sabun, dan menggunakan alas kaki ketika berada di luar rumah.
Kata dia, anak-anak juga harus diberikan imunisasi dasar yang lengkap agarmenjadikan anak tetap sehat untuk dirinya dan lingkungannya. Beberapa jenis imunisasi yang diberikan yakni Hepatitis B, Poliomyelitis, Tuberculosis, Difteri, Pertusis, Tetanus, Pneumonia dan Meningitis, serta Campak.
Selain itu, Ati juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan selalu jamban sehat. “Tidak mencemari sumber air dan tanah. Lingkungan bersih, sehat, dan tidak berbau. Dengan begitu tidak mengundang datangnya lalat/kecoa/serangga yang dapat menularkan penyakit,” ujarnya.
Ia juga mengatakan, masyarakat harus dapat mengakses terhadap air bersih. Sumur gali, sumur pompa, kran umum, dam mata air harus dijaga bangunannya agar tidak rusak. Lantai sumur sebaiknya kedap air (diplester) dan tidak retak. Bibir sumur dan dinding sumur juga harus diplester dan sumur ditutup. “Jarak letak sumber air dengan jamban dan tempat pembuangan sampah minimal 10 meter,” terangnya. (*)
Dinkes Banten Turun ke Ciboleger, Cek Kesehatan Masyarakat Baduy
Dinkes Banten bersama Dinkes Lebak menggelar Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi masyarakat Baduy.
Read moreDetails











