Mereka akhirnya tak tahan dan memutuskan untuk mengontrak, saat itu Atoy sudah punya kerjaan sebagai tukang bangunan. Tapi lagi-lagi, bukannya didukung malah ditertawakan oleh saudara dari keluarga Linda. “Ayah mah sering marah aja, katanya bikin malu keluarga,” akunya.
Kondisi semakin tak menentu saat mereka dikaruniai anak pertama, mulai dari biaya kelahiran sampai membeli susu bayi, keduanya banyak meminjam uang baik di teman maupun warung dekat kontrakan. “Sampai kita pernah diusir dari kontrakan karena enggak mampu bayar,” ungkapnya.
Sambil membawa anak yang masih bayi, mereka pun pindah ke tangerang, di sana Atoy diajak bekerja oleh saudaranya di pabrik sepatu, waktu itu upahnya masih kecil. Tapi karena kerja keras dan keuletan Atoy, setiap tahunnya ia diberi tambahan upah.
Kinerjanya lumayan bagus sampai akhirnya Atoy dipercayai menjadi pimpinan produksi, tugasnya memantau semua proses dari awal hingga pengepakan. “Alhamdulillah sekarang kita sudah punya rumah sendiri dan mobil dua,” kata Linda.
Bukan cuma itu, orangtua Linda yang dulu sejahtera, kini sawah dan hartanya habis untuk biaya pengobatan sang ayah yang sakit-sakitan. “Saya bersyukur punya Kang Atoy, meski dulu sering dihina, tapi enggak pernah benci sama keluarga saya,” pungkasnya.
Subhanallah, semoga langgeng dan berkah ya Teh. Amin. (drp/air)











