Menurutnya, sepinya kunjungan wisata di Anyar-Cinangka tak terlepas dari isu tsunami. Kemudian, juga karena kebijakan ganjil genap yang diberlakukan oleh pihak kepolisian. “Tamu-tamu berfikir ulang untuk ke pantai, takut nantinya diputar balik,” ucapnya.
Kondisi itu, kata dia, membuat pengelola pantai merugi. Jika dihitung hari normal, pendapatan pada satu pekan biasanya sebesar Rp500 juta hingga Rp1 miliar. “Kalau sekarang 10 persennya aja kayaknya enggak ada,” ujarnya.
Karena sepinya pengunjung, pihaknya hanya bisa membayar gaji karyawan saja. Sementara, untuk kebutuhan operasional lainnya kesulitan. “Untuk makan karyawan saja tertunda, para pedagang juga terdampak karena sepi,” ucapnya.
Ia berharap, Pemerintah dapat mengambil kebijakan yang berimbang. Yakni, dapat menjaga kesehatan dan menjaga ekonomi masyarakat salah satunya sektor pariwisata.











