Cerpen Asqo L Fatir
Dua orang polisi dengan seragam coklat berbintang keluar dari mobil patroli dan mendatangiku yang sedang duduk di amben warung. “Kau tahu di mana kediaman Ki Pinyul?” tanya seorang dari mereka.
“Lurus saja, lalu belok kiri,” kulihat pistol api bersarang di pinggangnya, “Ada perlu apa dengannya, Pak?”
“Cuma silaturahmi.”
Aku tidak mengerti kenapa orang dewasa selalu menganggap anak muda sepertiku tidak tau apa-apa. Tapi tak masalah. Toh tanpa dijelaskan pun aku mengerti polisi itu hendak menyelidiki kasus camat yang mati selepas blusukan ke desa ini.
“Berhati-hatilah dengan pria plontos itu Pak. Dia sungguh berbahaya.” Aku coba memperingatkan. Tapi polisi itu hanya menyeringai. Lantas bergegas pergi ke kediaman Ki Pinyul.
Tidak selang berapa lama, terdengar suara tembakan. Penduduk di sekitar rumah Ki Pinyul keluar dan mendatangi sumber suara. Namun kami hanya bisa melihat pertarungan itu dari jauh.
Tiga timah panas dilepaskan seorang polisi tanpa jeda setelah mendapati satu temannya tersukur dengan luka di kepala akibat hantaman kapak.
Sayangnya tak ada satu pun peluru yang berhasil menembus kulit Ki Pinyul. Pria plontos itu tertawa. Si Polisi benar-benar terdesak, ia berusaha menghubungi seseorang. Tapi entah kenapa mulutnya tak mampu mengeluarkan suara dan tubuhnya sulit digerakan.
Sekilas ia melihat Ki Pinyul seperti merapal mantra. Tubuh Si Polisi kemudian bergetar dan ponsel pun terjatuh dari genggamannya. Dengan cepat Ki Pinyul menikam dadanya dengan pisau kecil. Darah muncrat. Ki Pinyul kembali menyeringai. Polisi itu tewas. Lalu Ki Pinyul melancarkan kebiasaannya setelah membunuh yaitu membedah jantung, mengangkat dan memakannya mentah-mentah di depan kami.
Kabar mengerikan tentang kejadian itu pun menyebar secepat serpihan kaca ponsel Si Polisi yang jatuh ke tanah. Anehnya, meski terus diceritakan dari mulut ke mulut, kematian kedua polisi itu tak pernah menjadi kasus yang perlu untuk diselidiki. Seperti terlindung tabir, kejadian itu hanya menjadi kisah yang lamat-lamat dilupakan orang luar namun membekas dalam ingatan kami, para penduduk desa yang pernah menantang pria plontos itu.











