“Meskipun terkabur, sangat berbahaya untuk melihat matahari secara langsung karena cahaya matahari tetap dapat merusak lapisan retina mata dan menyebabkan penglihatan kabur hingga kebutaan. Jika tidak mempunyai alat khusus (polarisator), dapat digunakan metode proyeksi atau bayangan,” katanya.
Yatny menyarankan, saat melihat gerhana paling aman dengan metode proyeksi atau bayangan. Contohnya adalah membuat pinhole box, yaitu kotak dengan lubang kecil pada salah satu sisinya, atau membuat celah kecil misalnya dengan tangan atau alat rumah tangga seperti saringan, dan mengamati bayangan matahari yang tampak pada tanah.
“Penggunaan alat sehari-hari seperti kacamata hitam, film foto, dan film rontgen untuk melihat matahari tidak dianjurkan,” katanya.
Adapun untuk merayakan momen spesial ini, tim Observatorium Bosscha pun berencana untuk melakukan pengamatan di daerah dengan gerhana total, yaitu di sekitar Papua atau Maluku Barat Daya, baik dari darat maupun laut. Selain itu, Bosscha juga sudah menyiapkan berbagai aktivitas untuk edukasi masyarakat, dan live streaming gerhana total nanti.
” Gerhana adalah fenomena alam yang sangat menakjubkan. Jadi marilah kita semua berpartisipasi aktif mengambil bagian dalam peristiwa ini,” katanya.
Perlu diketahui bahwa terjadinya gerhana matahari total bersamaan dengan peringatan seabad astronomi modern Indonesia yang ditandai dengan peresmian Observatorium Bosscha ITB pada 1 Januari 1923 sebagai observatorium astronomi modern pertama di Asia Tenggara. Gerhana matahari total pada 20 April 2023 juga menjadi kado spesial bagi Indonesia.
Reporter : Purnama Irawan
Editor : Ahmad Lutfi











