Sudah satu setengah bulan saya menurunkan berat badan. Hasilnya lumayan.
Enam kilogram sudah hilang. Jangan balik lagi.
Target saya delapan kilogram dalam dua bulan. Sama seperti tiga tahun lalu. Waktu itu berhasil. Setelah itu naik lagi. Ya begitulah. Menurunkan berat badan ternyata lebih mudah daripada menjaga mulut.
Yang lucu, setiap kali badan saya mengecil, pertanyaan orang hampir selalu sama. “Sakit apa?” Jarang sekali ada yang bertanya,
“Sekarang lebih sehat, ya?”
Tiga tahun lalu juga begitu. Saat berat badan turun delapan kilogram, banyak yang bilang saya terlalu kurus. Tidak pantas. Tidak enak dilihat.
Saya hanya tertawa. Mungkin di negeri ini orang sehat harus tetap terlihat agak gemuk. Pipinya harus ada. Perut sedikit maju tidak apa-apa. Asal jangan sampai tetangga curiga.
Padahal, dulu yang berlebihan bukan hanya berat badan saya. Kolesterol tinggi. Trigliserida tinggi. Glukosa mulai naik. Lemak darah juga ikut-ikutan. Kompak. Seperti rombongan kondangan.
Begitu berat badan turun, angka-angka itu ikut turun. Hasil pemeriksaan kembali baik. Celana longgar. Badan juga lebih ringan. Naik tangga tidak ngos-ngosan lagi.
Sekarang teori diet banyak sekali. Ada yang menghitung kalori. Ada yang takut karbohidrat. Ada yang mengatur jam makan. Ada yang puasa dengan nama keren, yaitu intermittent fasting.
Silakan saja. Saya tidak anti teori. Tapi kadang teori itu membuat orang sibuk sebelum mulai. Belum makan sudah menghitung kalori. Begitu makanan datang, hitungannya hilang. Apalagi kalau ada sambal, gorengan, lalapan, ikan bakar, atau lauk favorit. Teori biasanya kalah cepat.
Pada bulan pertama diet, saya tidak makan nasi. Tidak makan yang berbahan tepung. Tidak minum yang manis. Cukup makan ikan, tahu tempe, telur, sayuran, dan sesekali daging. Hasilnya bagus. Berat badan turun. Kolesterol turun. Glukosa membaik. Trigliserida angkanya tidak merah lagi.
Dokter sebenarnya bilang sederhana saja. Kurangi porsi. Awalnya saya pilih jalan sendiri. Setelah itu baru kembali ke jalan dokter.
Saya makan nasi lagi. Tetap makan lauk. Tetap minum kopi. Tidak ada makanan yang saya musuhi. Saya hanya belajar berhenti sebelum terlalu kenyang.
Ternyata bisa.
Diet itu sebenarnya tidak serumit seminar. Bukan lomba paling menderita. Bukan pula adu banyak pantangan. Intinya mau mengurangi. Lalu mau mengulanginya lagi besok.
Satu sendok nasi yang dikurangi hari ini memang terlihat kecil. Tapi kalau dilakukan tiap hari, hasilnya terasa. Tubuh ini diam-diam mencatat. Kita saja yang sering pura-pura lupa.
Saya melakukan ini bukan karena ingin disebut kurus. Saya punya mimpi sederhana.
Nanti, ketika sudah tua, saya masih ingin makan nasi uduk. Masih ingin sesekali makan kikil. Masih ingin makan sate bersama teman-teman lama.
Bagi saya, itulah tujuan diet. Bukan berhenti mencintai makanan. Tapi menjaga tubuh supaya kelak masih diberi izin menikmatinya.
Jadi kalau ada yang bertanya rahasianya apa, jawabannya pendek saja. Kurangi porsi. Hari ini. Besok lagi. Lusa lagi.
Sebab diet pada akhirnya bukan soal banyaknya teori. Diet itu soal mau.
Mau menahan sedikit sekarang, supaya nanti masih bisa makan nasi uduk di masa tua. (*)










