PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Omset penjualan sapi di tingkat peternak di Kabupaten Pandeglang mengalami penurunan sangat tajam karena merebaknya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) menyerang hewan ternak.
Salah satunya dialami oleh Peternakan Sapi Jawara di Desa Cimanuk, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang yang omset penjualannya merosot hingga 50 persen.
Pemilik Peternakan Sapi Jawara Andre mengatakan, merebaknya penyakit mulut dan kaki pada hewan membuatnya khawatir.
“PMK merebak, peternak mengalami penurunan penjualan hampir 50 persen. Biasanya menjelang Lebaran Idul Adha stok kita di 300-400 ekor tapi sekarang setengahnya di kisaran 150 ekor,” katanya kemarin.
Stok penjualan mengalami penurunan karena sementara ini belum bisa belanja. Di sejumlah daerah mulai memberlakukan lockdown karena PMK.
“Ya mudah-mudahan PMK cepet berlalu, jadi kita kan bisa jualan hewan buat kurban jadi banyak lagi. Kalau kayak gini kan jadi membuat takut orang kurban,” katanya.
Andre mengungkapkan, merebaknya PMK menyebabkan naiknya harga hewan ternak. Misalnya saja sapi dari yang paling murah biasanya satu ekor itu paling juga Rp15 juta sekarang naik menjadi Rp20 juta.
“PMK mempengaruhi harga karena saat ini kalau kita beli ada tambahan biaya untuk karantina. Jadi ketika beli tidak bisa langsung di bawa tapi harus dikarantina selama 14 hari dan setelah dinyatakan sehat baru bisa diambil,” katanya.
Ketika ditanya apa upaya dilakukan dalam mencegah hewan ternak terkena PMK, Andre mengungkapkan, kalau dirinya rutin membersihkan kandang setiap dan memandikan hewan peliharannya. Biasa seminggu dua kali menjadi setiap hari.
“Kalau kandang itu harus bersih, terus kita semprot anti bakteri, dan memberikan pakan sehat. Jadi menjaga kesehatan sapi nomor satu supaya bebas PMK,” katanya.











