SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Industri tahu di Kota Serang masih bergantung pada pasokan kedelai impor. Ketergantungan tersebut membuat pelaku usaha rentan terhadap perubahan harga bahan baku yang terjadi di pasar internasional.
Pengelola Tahu Rafa Family Production di Kampung Domba, Kota Serang, Maulana, mengatakan seluruh kebutuhan kedelai untuk produksi tahu masih berasal dari luar negeri, terutama Amerika Serikat dan Kanada.
“Masih impor dari Amerika dan Kanada. Bahan bakunya memang dari luar semua,” kata Maulana, Kamis, 11 Juni 2026.
Menurutnya, harga kedelai impor saat ini berada di kisaran Rp11.200 per kilogram. Angka tersebut mengalami kenaikan dibanding sebelumnya yang berada di kisaran Rp11.000 per kilogram.
Meski kenaikannya hanya sekitar Rp100 hingga Rp200 per kilogram, dampaknya cukup signifikan karena kebutuhan produksi yang besar. Setiap hari, Tahu Rafa Family Production menghabiskan sekitar satu ton kedelai untuk memenuhi permintaan pasar.
“Kalau per kilo memang naiknya cuma sekitar 100 sampai 200 perak. Tapi kalau dihitung kebutuhan produksi satu ton per hari, tetap terasa,” ujarnya.
Kenaikan harga bahan baku tersebut turut memengaruhi harga jual tahu. Saat ini harga tahu mencapai sekitar Rp50 ribu per papan, naik dari sebelumnya Rp45 ribu hingga Rp47 ribu per papan.
Meski demikian, pihaknya memilih mempertahankan ukuran produk agar tidak mengecewakan pelanggan yang sudah terbiasa dengan kualitas dan ukuran tahu yang dipasarkan. “Kalau ukurannya dikecilin nanti pembeli komplain,” katanya.
Hasil produksi tahu dari Kampung Domba didistribusikan ke sejumlah pasar tradisional di Kota dan Kabupaten Serang, seperti Pasar Rau, Pasar Ciruas, dan Pasar Lama. Selain itu, produk juga dipasok ke sejumlah pelaku usaha kuliner.
Kondisi serupa juga dirasakan perajin tempe di wilayah yang sama. Wiryono, salah satu perajin tempe, mengaku harga kedelai yang digunakan sebagai bahan baku mengalami kenaikan cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. “Sekarang 10.600, sebelumnya 9.600,” ujarnya.
Meski biaya produksi meningkat, para perajin tempe belum menaikkan harga jual kepada konsumen. Untuk menjaga daya beli masyarakat, mereka memilih menyesuaikan ukuran produk. “Enggak naik, tetap aja. Paling nipisin dikit,” kata Wiryono.
Saat ini tempe masih dijual Rp4.000 per bungkus untuk kemasan plastik dan Rp3.000 untuk kemasan daun. Produksi harian mencapai sekitar 600 bungkus dan dapat meningkat hingga 900 bungkus pada kondisi tertentu.
Para pelaku usaha berharap stabilitas harga kedelai dapat terjaga. Ketergantungan terhadap pasokan impor dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi industri tahu dan tempe karena setiap perubahan harga di pasar global akan langsung berdampak pada biaya produksi di tingkat perajin.
Selama kebutuhan kedelai nasional masih didominasi impor, pelaku usaha mengaku sulit menghindari kenaikan biaya produksi yang sewaktu-waktu dapat memengaruhi harga pangan olahan yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari.
Reporter: Nahrul Muhilmi
Editor: Agung S Pambudi









