“Innalillahi wainnailaihi raji’un
Telah meninggal dunia dengan tenang Bapak Drs.H.Oemarsono (mantan Gubernur Lampung) pada hari ini Minggu 22 Mei 2022 jam 12.15 WIB di RSU dr.Muwardi Surakarta.
Jenazah akan disemayamkan di rumah duka Dk Cungul Ds Gebang Kec Masaran Kab Sragen, Jateng.
Pelaksanaan pemakaman akan diberitahukan menyusul.
Semoga almarhum wafat dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.
Keluarga yg berdukacita.
TOTOK HARSUTOTO (Adik)”
Minggu, 22 Mei 2022 siang kemarin saya kaget. Mendapat pesan WhatsApp (WA) sebagaimana di atas yang mengabarkan Gubernur Lampung periode 1998 – 2003 itu meninggal dunia. Pesan itu dikirim oleh adik almarhum kepada rekan-rekannya di Lampung.
Drs Oemarsono adalah Gubernur Lampung periode 1998 – 2003. Hasil Sidang Paripurna DPRD Provinsi Lampung. Sebelum menjabat sebagai Gubernur, Pak Oe, demikian panggilan akrab kalangan wartawan Lampung untuk Pak Oemarsono, adalah Wakil Gubernur (Wagub) Lampung bidang Ekonomi dan Pembangunan. Saat itu Gubernur Lampung dijabat Letjen (Hor) Pur Poedjono Pranjoto.
Sebelum mendapat tugas sebagai Wagub, Pak Oe adalah Bupati Wonogiri dua periode, 1985 – 1995.
Saya mengenalnya sejak pertama kali beliau menginjakkan kaki di Lampung tahun 1995. Saat itu, di rumah kontrakannya, Pahoman, Bandarlampung, Pak Oe mengadakan selamat kecil-kecilan. Saya diajak serta oleh rekan-rekan yang tergabung dalam perkumpulan Paguyuban Warga Wonogiri di Lampung. Saya nimbrung ikut ngobrol. Yang kemudian saya tahu bahwa Pak Oe pandai mendalang.
Obrolan itulah yang kemudian saya tulis dan menjadi judul berita di koran Tamtama, Lampung. Tempat saya bernaung, selain menjadi koresponden sebuah koran harian Ibukota yang terbit sore hari.
SOSOK SEDERHANA
Sejak saat itulah saya akrab dengan Pak Oe. Termasuk dengan keluarganya. Di mata saya, Pak Oe adalah sosok sederhana. Saking sederhananya, ikat pinggang yang dikenakannya sampai mengelupas kulitnya.
Saat sudah menjadi Gubernur, Pak Oe tidak berubah. Masih sederhana. Ketika anak pertamanya Projo Sudrajat mau menikah dengan seorang gadis di Sragen, ia memarahi anaknya lantaran membeli jas baru seharga Rp 400 ribu. Katanya, harga segitu terlalu mahal. Padahal, Tahun 1997 – 1999, jas seharga itu termasuk kelas sederhana. Kalau boleh dibilang murahan.
Tidak itu saja. Saat pertama kali datang ke Lampung, pria beristrikan Edyati Dwi Lestari, mengendarai sebuah sedan tua warna coklat (saya lupa merk-nya) seharga Rp 13 juta. Dan, itu satu-satunya mobil yang ia punya. Ia beli ketika mau berangkat ke Lampung. Padahal, pria kelahiran Sragen, 3 Mei 1940 adalah Bupati Wonogiri dua periode. Bupati yang dinilai oleh Presiden Soeharto sangat sukses.
Itulah mengapa, kemudian Pak Oe digadang-gadang oleh “Cendana” untuk menempati pos baru sebagai Wakil Gubernur Lampung. Padahal, ketika itu, sudah ada Wakil Gubernur Suwardi Ramli. Maka, dibuatlah pos baru. Pak Suwardi Ramli sebagai Wakil Gubernur bidang Politik dan Pemerintahan. Sedangkan Pak Oe Wagub bidang Ekonomi dan Pembangunan.
Jabatan Wagub itu hanyalah sebuah jembatan sementara. Maka, ketika digelar Pemilihan Gubernur Lampung 1998, yang ketika itu masih dipilih oleh DPRD, Pak Oe maju. Alumni UGM Tahun 1966 ini bersaing dengan Sekretaris Daerah Lampung, Nurdin Muhayat. Yang hasilnya sudah bisa ditebak. Pak Oe unggul. Pak Oe menang.











