Ia pun dengan para seniman jalanan lain yang berasal dari Rangkasbitung memacu sepeda motor mereka ke Danau Talanca, Malimping guna menghadiri acara tersebut. Namun, sesampainya di lokasi, dirinya dilarang masuk oleh petugas acara itu.
“Waktu itu KPJ Rangkasbitung belum terbentuk, tapi kita nekat ke sana. Begitu sampai sana, kita diusir. Saya masih inget tuh yang usir saya itu Juned Topang, dia ketua KPJ Bogor. Kita diusir, karena kita siapa, kita bilang bahwa kita itu KPJ Rangkasbitung. Akhirnya kita diusir, tapi kita lobby lagi, dan kita boleh tuh masuk jadi peserta Jambore dengan syarat harus bawa bukti bahkan kita itu seniman. Nah ada satu orang yang pulang dari Malimping ke Rangkasbitung dengan nebeng mobil truk buat bawa lukisan, dan karya-karya kita,” katanya.
“Kita tunjukin tuh hasil karya kita, barulah mereka percaya bahwa kita itu juga seniman. Kita boleh masuk jadi peserta, tenda kita juga beriringan dengan tenda Iwan Fals. Nah dari sana lah kita langsung deklarasikan KPJ Rangkasbitung,” tambahnya.
Dengan terbentuknya KPJ itu, Ugas dan kawan-kawannya berkomitmen untuk menjadikan KPJ sebagai wadah yang mengayomi para seniman dan anak jalanan di Rangkasbitung.
“KPJ ini sudah berumur 26 tahun, prinsip kita itu terus mengalir. Selalu bergerak walaupun tanpa dukungan siapapun. Kita ga ada target apapun, namun yang pasti kita akan terus mendukung para seniman jalanan agar mereka dapat terus berkarir dan menyalurkan bakat mereka,” ujarnya.
Ugas sapaan akrab Lugas menambahkan, KPJ Rangkasbitung memiliki satu rahasia sehingga hingga kini masih tetap eksis, yakni dengan menggelar pengajian setiap malam Jumat. Pengajian yang rutin digelar setiap satu minggu sekali itu menjadi suatu kunci KPJ Rangkasbitung tetap bertahan. Ia pun mengungkapkan, dalam pengajian itu, Ugas dan kawan-kawannya turut mengundang anak-anak jalanan khususnya yatim piatu untuk bergabung ke dalam pengajian. JIka ada rezeki, mereka juga turut menyantuni para anak yatim piatu itu.











