“Pengajian malam Jumat kita terus lakukan, dan ternyata itu sudah menjadi penyebab kita bertahan selama 26 tahun ini. Walaupun dalam pengajian itu 30% agama, sisanya silaturahmi. Di sana kita kita silaturahmi, kita berdiskusi. Gimana ga berkahnya coba, pengajian dilakukan dengan membaca doa dan yasinan, dan baru setelah itu kita berdiskusi sampe subuh. Dan Alhamdulillahnya, kita juga selalu ada rezeki entah dari mana untuk menyantuni anak yatim,” kata Ugas.
Dalam pengajian itu, kata Ugas, hampir semua kyai ternama di Lebak sudah datang dan memberikan tausiyah kepada para anak jalanan. Selain itu, pada pengajian itu, dirinya dan kawan-kawan KPJ lainnya turut mengajari para anak-anak yatim itu mengenai seni, seperti musik dan lukisan.
“Nah di sini kita sempatkan untuk mengajari para anak yatim itu tentang seni, kita ajari mereka cara menggambar dan lain-lainnya. Kita juga dorong mereka untuk membaca buku-buku yang sudah kita siapkan di taman baca,” kata Ugas.
Katanya, Ia juga selalu menekankan kepada para seniman dan anak jalanan untuk membuat kehidupan yang lebih layak melalui karya-karya mereka seperti berniaga dengan menjual hasil karya lukisan maupun membuat lagu dan lain-lainnya. Karena menurutnya, berniaga merupakan suatu profesi yang bermartabat dan sudah dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
“Di KPJ, kita larang tuh yang namanya alkohol dan aksi kejahatan. Para anak jalanan yang biasa ga jauh dari minum alkohol dan aksi kejahatan kita minta untuk stop hal itu ketika bergabung dalam KPJ. Kita minta mereka untuk meninggalkan itu ketika bergabung dalam KPJ, karena kita tahu sendiri bahwa alkohol itu memberikan pengaruh yang tidak baik bagi kita. Dibandingkan minum-minuman, kita minta anggota untuk berdiskusi dan berkarya. Kita meminta mereka untuk berniaga sesuai dengan sunnah Rasulullah,” pungkasnya. (*)
Laporan: Yusuf Permana











