Berangkat dari kebutuhan pupuk yang diperlukan untuk perawatan tanaman di lahan seluas 50 hektare tersebut dan adanya kesulitan dalam mencari pupuk organik yang digunakan untuk menyuburkan tanaman, terutama di Pandeglang karena belum adanya produksi pupuk lokal, sehingga harus membeli pupuk dari luar daerah. Tentu tentu saja hal itu mengeluarkan cost yang cukup mahal.
“Berdasarkan kondisi tersebut Koperasi BIM berinisiatif membuat pupuk organik dengan memanfaatkan abu sisa pembakaran dari unit PLTU Banten 2 Labuan OMU atau biasa disebut dengan FABA. Yang kemudian dicampur dengan kotoran hewan (kohe) sapi, kohe ayam, solid, dan bakteri pengurai plus air,” katanya.
Dari adanya inisiatif tersebut, anggota Koperasi BIM juga sebelumnya sudah melakukan uji lab kandungan pupuk organik FABA yang dilakukan dengan PT Sucofindo. Hasilnya PT Sucofindo menyatakan bahwa pupuk FABA memiliki kandungan yang bagus jika digunakan untuk menjadi pupuk organik.
“Ini berarti pupuk fermentasi dari sisa abu pembakaran batu bara (FABA) layak dijadikan pupuk organik untuk segala jenis tanaman dengan kualitas yang baik. Produk pupuk yang dihasilkan juga diuji coba ke tanaman kopi yang ada di lahan tersebut, dan dari hasil uji coba tersebut tanaman yang menggunakan pupuk hasil fermentasi dari bahan FABA memiliki pertumbuhan yang cepat dan sangat signifikan, dibandingkan dengan tanaman yang tidak diberikan pupuk FABA,” katanya.
Pertumbuhan tanaman lebih cepat, terutama pada tanaman kopi, yang mana setelah menggunakan pupuk FABA tumbuh tunas daun baru dan juga tumbuh bunga-bunga lebih cepat, dibandingkan dengan tanaman yang tidak diberi pupuk fermentasi Faba. Hal ini semakin menguatkan niat dan tekad para anggota dari koperasi BIM untuk memproduksi pupuk dari bahan sisa pembakaran abu batu bara (FABA).
“Kesuksesan manfaat pupuk FABA yang berdampak luar biasa pada pertumbuhan tanaman, juga menarik antusias warga sekitar, khususnya para petani dilingkungan tersebut, untuk membeli pupuk FABA dari Koperasi BIM. Padahal Koperasi BIM belum memproduksi secara besar dan belum bisa memenuhi kebutuhan produksi di luar kebutuhan Koperasi BIM,” katanya.
Dari banyaknya antusiasme warga khususnya petani di lingkungan tersebut, pupuk FABA mempunyai peluang yang besar untuk dapat dikembangkan dan dipasarkan secara luas, karena pupuk FABA juga merupakan sebuah terobosan di bidang pertanian, yang juga memanfaatkan abu sisa pembakaran PLTU yang tentu saja memiliki andil yang sangat besar dalam pengurangan limbah di PLTU dan juga dapat dimanfaatkan untuk bidang pertanian. Nantinya menjadi efek domino yang bisa meningkatkan perekonomian warga khususnya di Kabupaten Pandeglang.
“Dimana pandeglang itu sendiri ialah salah satu daerah dengan sektor pertanian yang cukup tinggi, karena meliputi daerah pegunungan dan persawahan.











