“Kita juga melakukan refreshing tentang pentingkanya pelayanan kehamilan minimal enam kali selama masa kehamilan melalui pemeriksaan ANC (antenatal care) terpadu untuk mendeteksi adanya kelahiran non obstetrik,” kata Triatno.
Ia mengungkapkan, ada beberapa penyebab tingginya AKI di Lebak, baik penyebab langsung maupun tidak langsung. Penyebab langsung ialah penyakit yang dialami oleh ibu hamil seperti hipertensi, infeksi atau pendarahan pascamelahirkan. Sedangkan penyebab tidak langsung lambatnya pengambilan keputusan.
Ketika disingung buruknya infrastruktur kesehatan di pelosok daerah ikut jadi penyebab tingginya kasus AKI di Lebak, Triatno tidak menampik itu.
Namun, pihaknya sudah memiliki jurus paten untuk mengatasi hal itu yaitu melalui program Ujas-Jamilah atau Upaya Peningkatan Derajat Kesehatan dan Pelayanan Jemput Antar Ibu Hamil dan Bersalin Bermasalah.
“Tentunya percepatan pertolongan juga jadi faktor penyabab, namun itu kita bisa cegah dengan Ujas-Jamilah, yang mana kita melakukan pelayanan jemput bola kepada ibu hamil yang bermasalah. Nah yang jadi masalahnya sekarang ialah tingkat kepedulian masyarakat itu, program ini bisa berjalan jika masyarakat aktif memberikan laporan kepada kami tentang kondisi ibu hamil di sekitarnya,” ungkapnya.











