Saat ini, sambung Lisa, banyak warga beralih membeli migor curah lantaran Minyakita sulit didapatkan. “Migor curah itu lebih murah, dibandingkan yang kemasan (premium-red) yang harganya Rp18 ribu ke atas semua. Tapi pas ada Minyakita, warga belinya Minyakita karena harganya masih kejangkau yaitu Rp14 ribu per liter,” ungkapnya.
Dia mengaku tidak mengetahui penyebab suliltnya mendapat pasokan Minyakita. Dia hanya berharap pemerintah bertindak cepat untuk mengantisipasi kelangkaan migor di pasaran.
“Jangan sampai migor langka dan harganya mahal lagi kayak kemarin, karena bukan cuma warga tapi kita pedagang juga kesulitan,” pintanya.
Okta, salah satu pembeli di Pasar Rangkasbitung, mengaku membeli migor curah karena harganya lebih murah dibandingkan harga migor kemasan.“Dulu saya sering beli Minyakita, karena harganya murah. Tapi karena langka, terus harganya naik yaudah sekarang terpaksa ke minyak curah,” tuturnya.
Di Kota Tangsel, sejak Desember tahun lalu, Minyakita sulit ditemukan. Kelangkaan ini disebabkan pasokan dari produsen terhenti. “Kata pedagang sudah tidak dikirim produsen. Yang ada tinggal minyak premium dan minyak curah,” ujar Kabid Perdagangan Disperindag Kota Tangsel Ghazali, kemarin.
Ghazali mengakui sempat menemukan Minyakita dengan jumlah terbatas di Pasar Ciputat dan Tip Top. Tetapi, harga jualnya mencapai Rp16 ribu per liter.












