Evi mengatakan, minat baca warga Banten masih berada di kategori sedang, belum masuk tinggi karena masih berada dibawah skor 70.
“Kalau kategori tinggi skornya dianggap 70 keatas, kalau kita sekarang sekitar 65. Ya masih kategori sedang, tapi di atas rata-rata, ” katanya.
DPK Banten sendiri terus berupaya meningkatkan tingkat membaca warga Banten. Sejumlah program pun digodok baik di skala provinsi maupun daerah.
Selain itu, DPK terus memberikan pembinaan dan mendorong kepada setiap sekolah di Banten untuk terus meningkatkan peranan dan fungsi perpustakaan di sekolah.
“Perpustakaan harus berjalan dengan maksimal, bukan hanya sebagai pelengkap saja. Harus memiliki peran penting dalam meningkatkan edukasi dan mutu pendidikan siswa,” katanya.
Menurutnya, membaca harus menjadi suatu budaya yang ditanamkan disetiap pelajar sejak usia dini. Sebab, dengan membaca para pelajar bisa mendapatkan wawasan yang jauh yang tentunya akan berdampak positif bagi Sumber Daya Manusia (SDM) di negara ini.
“Kalau sudah budaya mah kayak misalnya Keluarga Berencana (KB), itu kan dulu disuruh, tapi sekarang orang KB sendiri. Ya dulu mah kan dipaksa-paksa ya ketika membaca, tapi jika sudah menjadi sebuah budaya, itu orang enggak usah disuruh,” katanya.
Dia menyebut, menumbuhkan minat baca anak bukan hanya tugas sekolah maupun Perpustakaan, tapi merupakan tugas orang tua juga.
“Makanya yang harus di lakukan itu dari keluarga bagaimana membuat si anak itu menjadi orang manusia pembelajar, dia tahu bagaimana mencari pengetahuan, dia tahu cara bagaimana menggunakan pengetahuan. Karena kan pengetahuan itu kalau hanya tahu itu tidak bermakna apa-apa, tapi ketika pengetahuan itu digunakan untuk apa dan menjadi produk, itu kan memiliki makna ya,” pungkasnya.
Reporter : Yusuf Permana
Editor : Merwanda











