Keenam, fobia dapat berlangsung selama periode waktu tertentu, biasanya enam bulan atau lebih.
Ketujuh, gejala-gejala yang terkait dengan fobia tidak dapat dikaitkan dengan kondisi mental lainnya, seperti gangguan obsesif kompulsif atau gangguan stres pasca trauma.
Adapun berdasarkan jenisnya, fobia dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
- Fobia Lingkungan Alam
Fobia ini dipengaruhi oleh faktor alam seperti air/kolam air/danau/air terjun/hujan, takut terhadap ketinggian, takut terhadap petir, dan takut terhadap badai.
- Fobia Hewan
Fobia hewan adalah jenis gangguan fobia spesifik yang biasa disebut zoophobia, merupakan ketakutan berlebih terhadap hewan yang mengakibatkan reaksi fisik serta emosional pada kehidupan sehari-hari orang tersebut terganggu, meskipun ia mungkin menyadari bahwa ketakutan itu tidak rasional. Gejala yang mungkin terjadi seperti panik, teror, gemetar, sesak nafas, dan menjaga jarak.
Fobia hewan yang umum contohnya ketakutan terhadap anjing, laba-laba, ular, kecoa, kupu-kupu, ulat, ayam, kucing, dan hewan pengerat.
- Fobia Situasional
Fobia ini dipicu oleh situasi atau lingkungan tertentu yang menakutkan.
Jenis fobia ini dapat membatasi seseorang terhadap apa yang mungkin ia dilakukan atau ke mana ia akan pergi. Contohnya adalah takut berbicara di depan umum, takut bepergian dengan pesawat terbang, dan takut pada kerumunan.
- Fobia Medis
Seperti namanya, fobia ini adalah ketakutan dengan hal-hal atau benda yang berhubungan dengan kegiatan medis, seperti takut terhadap suntikan, takut terhadap darah, takut terhadap dokter gigi, takut terhadap rumah sakit, dan takut terhadap kuman.
- Fobia Abstrak (Abstract Phobias)
Abstrak fobia adalah ketakutan yang didasarkan pada sesuatu yang tidak berwujud, seperti takut akan cinta, takut terhadap kegagalan, takut sendiri, takut terhadap kebahagiaan, takut terhadap muntah/tersedak.
Fobia spesifik disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya, meskipun tidak ada satu penyebab tunggal yang pasti. Berikut adalah beberapa faktor tersebut:
- Pengalaman traumatis
Seseorang yang mengalami pengalaman traumatis pada masa kanak-kanak dapat mengembangkan phobia spesifik di kemudian hari. Misalnya, seseorang yang pernah digigit anjing pada masa kecil dapat mengembangkan ketakutan yang berlebihan terhadap anjing pada masa dewasa.
- Perilaku yang dipelajari
Lingkungan keluarga juga dapat mempengaruhi timbulnya fobia spesifik. Misalnya, jika seseorang tumbuh di lingkungan keluarga dengan anggota keluarga yang memiliki fobia, maka individu tersebut lebih rentan untuk mengembangkan fobia spesifik.
- Faktor genetik
Beberapa orang mungkin memiliki kecenderungan genetik untuk memiliki kepribadian yang cenderung cemas, yang membuat mereka lebih rentan terhadap fobia spesifik.
- Depresi
Jika seseorang mengalami stres yang berkepanjangan, hal itu dapat berubah menjadi perasaan cemas dan depresi yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk mengatasi situasi tertentu dan akhirnya dapat berujung pada terjadinya fobia spesifik. (fdr/don)











