LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Lebak mulai berdampak kepada warga.
Sedikitnya, 400 kepala keluarga (KK) di empat desa di empat Kecamatan di Lebak mulai mengalami kesulitan air bersih. Sumur timba yang selama ini warga andalkan untuk kebutuhan air bersih mulai mengering.
Keempat desa yang mulai mengalami kesulitan air bersih, yakni Desa Muara, Kecamatan wanasalam, Desa Jalupangmulya, Kecamatan Leuwidamar, Desa Bayah Barat, Kecamatan Bayah, dan Desa Boongmanik, Kecamatan Bojongmanik.
Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geo Fisika (BMKG), kemarau akan terjadi dari Mei hingga Oktober 2023 mendatang akibat dampak fenomena dari El Nino.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Febby Rizki Pratama mengatakan, dari 16 Kecamatan yang merupakan daerah rawan bencana kekeringan, pihaknya telah menerima permohonan bantuan droping air bersih dari empat kecamatan, yakni Kecamatan Bojongmanik, Leuwidamar, Wanasalam, dan Bayah.
“Ya, sudah ada laporan untuk air bersih di Kecamatan Bojongmanik, Leuwidamar, Wanasalam dan Bayah. Kami akan mulai salurkam air bersih di minggu depan sesuai dengan surat permohonan yang masuk ke kami,” ujar Febby, Minggu 18 Juni 2023.
Dia mengatakan, akan mengirimkan dua tangki air bersih untuk warga. Dimana, diperkirakan pasokan air bersih yang dikirim mampu mencukupi kebutuhan satu minggu.
“Permohonan pasokan air bersih dari empat Kecamatan itu untuk 400 KK. Per lokasi kita drop 2 tangki air bersih. Per KK dapat 120 liter air bersih. Asumsi kebutuhan 1KK/hari untuk MCK 20 liter jadi bisa untuk 6 hari,” jelasnya.
Menurutnya, kekeringan tahun ini selain disebabkan masuknya musim kemarau, juga akibat dari fenomena El Nino. Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya melakukan program jangka pendek, dengan menyalurkan distribusi air bersih dengan tangki air kepada penduduk yang mengalami kesulitan air bersih di sejumlah Kecamatan.











