SERANG, RADARBANTEN.CO.ID- Warga Kampung Tengkurak, Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang mulai mengalami kesulitan air bersih.
Pasalnya, sumur-sumur warga yang biasa digunakan untuk aktivitas mandi dan cuci mulai mengalami kekeringan. Bahkan kondisi tersebut sudah terjadi sejak 8 hari yang lalu.
Seorang warga Kampung Tengkurak, Anton Susilo, mengatakan, kekeringan setiap tahunnya selalu terjadi di wilayahnya. Warga pun selalu kesulitan untuk mendapatkan akses air bersih jika musim kemarau tiba.
“Susah kalau sudah masuk musim kemarau, warga harus pergi ke desa tetangga untuk mencari akses air bersih,” katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon seluler, Senin, 7 Agustus 2023.
Bahkan tak sedikit warga yang terpaksa untuk menggunakan air sungai yang kondisinya kotor dan diduga tercemar untuk sekadar mencuci dan mandi. “Ada juga beberapa warga yang terpaksa menggunakan air sungai. Terkadang juga meminta ke warga lain yang sumurnya belum kering,” jelasnya.
Bahkan untuk memenuhi kebutuhan untuk konsumsi sehari-hari, warga harus membeli sebanyak 4 sampai 5 galon air isi ulang. Kondisi kesulitan air diperparah dengan tidak adanya pipanisasi PDAM ke daerah tersebut.
“Warga harus membeli air isi ulang galon yang harganya 5 ribu rupiah per galonnya. Kebutuhan air per hari bisa 4 sampai 5 galon khusus untuk konsumsi warga,” jelasnya.
Warga mengaku sudah melaporkan kondisi tersebut ke BPBD Kabupaten Serang agar masyarakat bisa dengan cepat memperoleh bantuan air bersih. Namun BPBD meminta agar warga terlebih dahulu meminta rekomendasi ke pihak kelurahan dan kecamatan.
“Kami sudah membuat laporan ke BPBD namun harus ada surat dari kelurahan dan kecamatan, tadi kami laporan ke camat tentang kekeringan, alhamdulillah camat memberikan solusi ke instansi terkait,” jelasnya.
Warga berharap agar pemerintah segera mengirimkan bantuan air bersih dan juga segera memberikan solusi yang bersifat jangka panjang guna menangani kondisi tersebut yang sering sekali terjadi di tengkurak.
“Kami ingin ada solusi jangka panjang, bukan sekedar memberi bantuan air bersih saat terjadi kemarau. Misalnya membuat sumur bor yang ditempatkan di tiap rt untuk mencukupi kebutuhan air warga,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga meminta agar regulasi untuk mengajukan permohonan bantuan dapat dipangkas agar masyarakat dapat segera mendapatkan bantuan
“Harusnya cepat tanggap, di sana kemarau, jadi BPBD bisa langsung merespons laporan yang dibuat masyarakat,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor : Aas Arbi











