CILEGON,RADARBANTEN.CO.ID-Mendekati Pemilu serentak 2024, hubungan barisan pengusung Walikota Cilegon Helldy Agustian dan Wakil Walikota Cilegon Sanuji Pentamarta memanas.
Kabar memanasnya hubungan barisan para pengusung sudah lama terdengar dan menjadi isu politik. Namun, saat ini memanasnya hubungan itu semakin tampak di publik.
Belum lama ini, Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Abdul Ghoffar melontarkan kritikan tajam kepada pemerintah.
Ghoffar menyebut inovasi pemerintah yang dipimpin oleh Helldy Agustian kebablasan dan tidak fokus pada janji politik.
Seperti diketahui, PKS adalah salah satu pihak yang mengusung Helldy-Sanuji pada Pilkada 2020 lalu.
Kritikan Ghoffar itu pun dinilai sebagai serangan kepada Helldy yang notabene sebagai kepala daerah.
Pasca kritikan Ghoffar itu muncul, serangan balik kepada PKS dilancarkan oleh pihak yang pro terhadap pemerintah.
Salah satu yang melancarkan balasan kritikan itu adalah Wakil Ketua DPRD Kota Cilegon Hasbi Sidik yang merupakan politisi Gerindra.
Kendati saat Pilkada 2020 Helldy-Sanuji diusung oleh PKS dan Berkarya, namun saat ini Helldy telah menjadi bagian Gerindra. Bahkan Helldy menduduki jabatan Ketua Gerindra Kota Cilegon.
Aksi saling serang itu sebagai bukti jika adanya ketidakharmonisan di barisan penguasa daerah.
“Ini pasti menunjukkan ketidakharmonisan, intrik politik, manuver politik, opini politik yang coba disuarakan,” ujar Pengamat Politik dari The Sultan Center, Edi M Abduh, Senin 28 Agustus 2023.
Menurut Edi, dalam politik terjadinya ketidakharmonisan di barisan penguasa merupakan hal yang wajar.
Terkait sikap Fraksi PKS yang mengkritik pemerintahan, menurut Edi hal itu pun sangat wajar. Karena DPRD Kota Cilegon memiliki peran kontrol sosial.
“Sangat wajar kalau mengkritisi pemerintah, sebagai kontrol sosial, penyeimbang juga, mereka menyampaikan pasti dari berbagai sumber khususnya aspirasi masyarakat bawah,” papar Edi.
Edi pun mengingatkan kepada pemerintah agar bisa menerima kritikan selama hal tersebut positif dan membangun
“Intinya lagi-lagi yang terpenting, selagi kritik itu positif dan bangun harus diterima juga, jangan sampai pemerintahan anti kritik. Kritik biasa, bisa jadi masukan untuk perbaikan pembangunan,” papar Edi. (*)
Reporter: Bayu Mulyana
Editor: Agung S Pambudi












