SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dibalik tubuh tinggi tegapnya, ternyata Muhamad Nurholis mempunyai pengalaman dengan kesehatan yang hampir mengancam nyawanya.
Pria asal Desa Sukamena, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang itu pernah terkena serangan jantung yang memaksanya harus menjalani perawatan selama tujuh hari di Rumah Sakit Dr Drajat Prawiranegara.
Pria yang berprofesi sebagai petugas keamanan di kantor pemerintahan itu harus menjalani berbagai macam prosedur agar kesehatan bisa kembali pulih.
Holis bercerita, peristiwa itu terjadi pada Juli tahun ini.
Saat itu, sekira pukul 03.00 Wib dinihari, Holis alami sesak di bagian kiri dada.
Tak tahan menahan sakit, pria berusia 32 tahun itu membangunkan istri dan tetangganya agar bisa mendapatkan pertolongan.
Saat itu, semua orang yang menolong mengira jika Holis hanya masuk angin, sehingga pertolongan yang dilakukan hanya dengan kerokan.
Diakui Holis, saat itu usai kerokan kondisi tubuh terasa sedikit lebih baik, namun, sepekan kemudian kondisi serupa kembali terjadi, bahkan lebih sakit.
Akhirnya, Holis dan keluarga memutuskan untuk datang ke Rumah Sakit Dr Drajat Prwairanegara Serang untuk memastikan kondisi kesehatan.
Tiba di rumah sakit, pria yang sudah jadi peserta BPJS Kesehatan sejak tahun 2017 itu langsung masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Di sana, ia mengaku langsung mendapatkan serangkaian penanganan medis, mulai dari pemeriksaan hingga pemberian obat.
Hasil pemeriksaan mendiagnosis Holis alami serangan jantung dan membuat ia harus menjalani rawat inap untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Pada hari yang sama, Holis langsung masuk rawat inap.
Esok harinya, penanganan lebih lanjutpun diterima Holis. Saat itu ia bahkan disebut berpotensi harus menjalani prosedur pemasangan ring jantung karena diduga adanya penyumbatan.
Beruntung, setelah obesrvasi lebih lanjut menggunakan alat yang dimasukkan melalui lengan, Holis urung pasang ring jantung, karena hasil pemeriksaan dokter penyumbatan yang dialami Holis tidak terlalu parah.
Setelah tujuh hari perawatan dan kondisi membaik, Holis akhirnya diizinkan pulang, namun selama tiga bulan ia harus cek kesehatan secara rutin ke rumah sakit.
“Selama tujuh hari rawat inap, cek kesehatan, obat, sampai rawat jalan selama tiga bulan, semuanya ditanggung BPJS Kesehatan, Alhanmdulillah,” ujar Holis.
Holis adalah peserta BPJS Kesehatan kategori penerima upah. Ia terdaftar di kelas I.
Menurutnya, jika tidak memiliki BPJS Kesehatan, ia harus menjual barang berharga miliknya seperti kendaraan pribadi.
Beruntung, berkat BPJS Kesehatan, kendati saat itu ia harus pasang ring, semuanya ditanggung oleh BPJS kesehatan.
Kendati sebagai peserta BPJS Kesehatan, Holis mengaku selama perawatan mendapatkan pelayanan baik dari rumah sakit.
Pengecekan kesehatan pun dilakuan secara rutin sejak pagi. Bahkan obat yang ia minum setiap harinya bisa mencapai 10 jenis obat.
Kata Holis, itu bukan satu-satunya pengalaman menggunakan BPJS Kesehatan yang ia alami, sampai saat ini ia secara rutin per tiga bulan melakukan kontrol karena mempunyai gejala darah tinggi.
“Pokoknya program BPJS luar biasa. Sekarang berobat juga gak perlu menunjukkan kartu asli, tinggal bawa KTP sudah bisa berobat,” ujarnya.
Bagi Holis, keberlangsungan adanya BPJS Kesehatan sangat penting. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib orang saat sakit jika tidak ada BPJS Kesehatan.
“Saya gak bisa bayangin kalau BPJS dibubarkan, berapa banyak nyawa yang tidak tertolong apalagi mereka yang gak mampu,” paparnya.
Ia pun menyarankan kepada peserta BPJS Kesehatan Mandiri untuk rutin membayar iuran tepat waktu, karena jika kepesertaan tidak aktif maka akan sangat rugi saat sakit nanti.
“Yang nugak iurannya, saya rasa sangat rugi, saat urgen kan tidak aktif kalau pakai BPJS kesehatan kan apalagi kelas tiga cukup Rp35 ribu perbulan dibandingkan biaya rumah sakit yang tinggi, sangat rugi, harusnya bisa rutin perbulan,” paparnya. (*)











