“Bisa disaksikan di sana, kalau kita analisis, yang tergenang kemarin itu kan daerah Angsoka. Setelah kita telusuri dan kita lakukan normalisasi sekarang, di hilirnya terjadi penyempitan,” tuturnya.
Akibat penyempitan sungai tersebut, lanjut dia, maka air meluap. Untuk itu, pihaknya saat ini tengah melakukan pekerjaan normalisasi di daerah yang dinilai sangat kritis.
“Karena ada penyempitan sehingga di hilirnya itu terjadi terbendung dan air menjadi meluap. Upaya itu belum selesai, jadi ini baru kita lakukan di daerah-daerah yang sangat kritis dulu,” ujarnya.
Proyek normalisasi Sungai Cibanten sempat menjadi sorotan berbagai pihak. Salah satu penyebabnya, karena penggusuran warga yang bermukim di bantaran Sungai Cibanten. Sedangkan, lokasi untuk merelokasi warga yang tergusur belum disediakan.
Tak hanya rumah, sawah garapan warga di bantaran Sungai Cibanten juga turut digusur proyek normalisasi Sungai Cibanten.
Seperti yang diungkapkan oleh salah satu warga Kampung Karang, Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Nurlela. Ia menyayangkan proses normalisasi tersebut terjadi saat padi tengah siap dipanen.
Nurlela mengaku, para petani yang menggarap sawah tersebut hanya diberikan uang ganti rugi senilai Rp 250 ribu.
“Sepanjang ini dulunya sawah, tapi pas lagi mateng-matengnya malah digusur, lumayan padahal lagi mau panen. Diganti Rp 250 ribu per sawah. Kalau rumah diganti Rp 2 juta per rumah,” katanya pada Rabu, 4 Oktober 2023.
Wakil Ketua DPRD Kota Serang, Hasan Basri, juga sempat memprotes penggusuran warga tanpa solusi terlebih dahulu.
“Harus cari solusi, itu kan kewenangan BBWSC3, kalau misalnya tindak lanjut kemarin banjir harus ada normalisasi ya lakukanlah normalisasi itu. Kalau normalisasi itu ada hambatan rumah warga ya relokasi, tanggung jawab siapa, ya tanggung jawab BBWSC3 lah,” ujarnya pada Rabu, 27 September 2023.











