PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID–Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pandeglang mengambil langkah proaktif menghadapi krisis pangan dunia yang kian mendesak.
Hal itu akan mendorong rencana ambisius untuk mengoptimalisasi lahan pertanian tidak produksi menjadi lahan produksi.
Sebagaimana perlu diketahui bahwasannya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan dampak perubahan iklim bisa memicu pada krisis pangan global. Salah satu bukti nyata adalah penurunan pada produksi padi.
Kepala DPKP Kabupaten Pandeglang, Nasir mengungkapkan pentingnya meningkatkan kinerja optimal dalam menghadapi tantangan ini. Menurutnya, langkah serius dalam mengembangkan sentra produksi padi adalah suatu keharusan.
“Ya mungkin yang pertama mengoptimalisasi lahan-lahan rawan yang tidak produksi menjadi produksi, kemudian di-support oleh alat berat Alsin dan pompanisasi, nah dua hal ini nah itu harapan pemerintah pusat,” ungkapnya, Rabu 1 Mei 2024.
Dikatakannya, namun untuk kondisi di wilayah Kabupaten Pandeglang ini perlu peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dalam produksi padi merupakan suatu keharusan guna mengurangi dampak ketika terjadi krisis pangan global.
“Misalnya, jika IP saat ini hanya 1, langkah selanjutnya adalah bagaimana meningkatkannya menjadi 2 dan seterusnya. Inilah fokus kita saat ini. Oleh karena itu, pemerintah telah melakukan kolaborasi melalui penandatanganan MoU dengan TNI-POLRI untuk mendukung penyuluhan pertanian di lapangan,” ujarnya.
Menunurutnya, langkah upaya ini dapat meningkatkan produksi pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor pangan.
Lanjutnya, Sumber air di Pandeglang memang cukup melimpah, tetapi sayangnya tidak bisa dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya karena kurangnya alat pompa dan selang yang memadai.
“Nah sekarang pemerintah telah mempersiapkan langkah awal dengan menyediakan 147 pompa, sebagian di antaranya telah didistribusikan dan akan segera dikirimkan ke lokasi-lokasi yang memiliki potensi sumber air,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, bahwa pemerintah daerah memiliki tanggung jawab krusial dalam mendukung target Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI), yang bertujuan menghasilkan 15 juta ton beras pada tahun 2024.
“Itulah mengapa kami melakukan segala upaya yang kami bisa. Meskipun sudah ada panen saat ini, tetapi masih ada risiko hujan. Jika panen terlambat, kami khawatir tidak akan bisa panen pada musim kedua. Oleh karena itu, target kami adalah mencapai produksi padi secara maksimal,” pungkasnya. (*)
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Agung S Pambudi











