LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Rengkong Kasepuhan Cibadak merupakan sebuah situs budaya tradisional yang kaya akan nilai sejarah dan seni. Namun, seiringnya berkembangnya zaman, budaya ini mulai langka dan rawan punah.
Untuk menjaga tradisi Rengkong tetap ada, Teater Guriang menggelar pendokumentasian, yakni melakukan serangkaian kegiatan, termasuk wawancara dengan tokoh lokal, dokumentasi visual dan audio tentang seni tradisional Rengkong Kasepuhan Cibadak, Desa Warung Banten, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak.
Menurut Dede Abdul Majid, direktur Teater Guriang Tujuh Indonesia, kegiatan pendokumentasian digelar pada 5 Mei 2024 lalu. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen mereka untuk melestarikan keberagaman budaya Indonesia.
“Rengkong ini rawan punah, sehingga kami berusaha memastikan budaya ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang, dengan menggelar kegiatan pendokumentasian,” kata Majid kepada RADARBANTEN.CO.ID, Selasa 7 Mei 2024.
Diungkapkannya, dengan adanya kegiatan tersebut, Teater Guriang Tujuh Indonesia semoga dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam upaya pelestarian dan peningkatan apresiasi terhadap kekayaan budaya Indonesia.
“Pendokumentasian karya budaya rawan punah Rengkong Kasepuhan Cibadak diharapkan akan menjadi langkah awal yang membawa dampak positif bagi keberlangsungan budaya tradisional Indonesia,” ujarnya.
Kegiatan pendokumentasian ini juga melibatkan masyarakat setempat sebagai apresiator dan hal ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan komunitas.
Sementara itu pegiat budaya dan komunita, Chandra, sangat mengapresiasi kegiatan tersebut sehingga masyarakat dapa melihat kebudayaan lokal lebih dekat dan megenalnya.
“Kegiatan ini merupaka hal yang sangat inovatif dan sangat bermanfaat. Dengan adanya kegiatan tersebut sehingga budaya di Lebak bisa terjaga,” tuturnya.
Ia menambahkan, semoga kegiatan tersebut dapat terus berjalan dan bisa menjaga kelestarian dan memperkenalkan budaya rawan punah di Lebak.
“Harus terus berjalan kegiatan ini, untuk menjaga budaya di Kabupaten Lebak tetap ada, dan tidak punah. Sehingga sangat pelestarian kedepannya terjaga di masa yang akan datang,” pungkasnya. (*)
Editor: Agus Priwandono











