SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) kembali menegaskan pentingnya penggunaan data inklusif dalam pelaksanaan intervensi kependudukan di Indonesia.
Hal ini disampaikan oleh Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, dalam peringatan Hari Kependudukan Dunia di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Kota Serang, Senin 29 Juli 2024.
Dalam keterangannya, Hasto Wardoyo menjelaskan bahwa data inklusif menjadi kunci dalam merancang program-program yang tepat sasaran, efektif, dan adil. “Data yang inklusif memungkinkan kami untuk memahami kebutuhan seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok-kelompok yang selama ini sering terpinggirkan,” ujarnya.
Menurut Hasto, data inklusif mencakup informasi detail mengenai berbagai aspek demografis, seperti usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, disabilitas, dan lokasi geografis. Dengan data yang lengkap dan akurat, BKKBN dapat mengidentifikasi kebutuhan spesifik dari setiap kelompok dan mengembangkan intervensi yang sesuai untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk.
Dengan intervensi yang pas, maka menurutnya, data inklusif ini dapat mendorong Pemerintah Daerah dalam mengembangkan Sumber Daya Manusia khususnya dalam memanfaatkan bonus demografi yang akan didapatkan nanti.
“Misalnya, dengan data yang terperinci, kami bisa mengetahui daerah mana yang membutuhkan perhatian lebih dalam hal layanan kesehatan reproduksi atau program keluarga berencana. Ini memungkinkan kami untuk mengalokasikan sumber daya dengan lebih efisien dan efektif,” tambah Hasto.
Selain itu, Hasto juga menekankan pentingnya data inklusif dalam proses pemantauan dan evaluasi program. “Dengan data yang inklusif, kami bisa memastikan bahwa tujuan-tujuan intervensi tercapai dan memberikan manfaat yang nyata bagi semua lapisan masyarakat. Ini juga membantu kami dalam mengidentifikasi dan memperbaiki kelemahan-kelemahan dalam program yang sedang berjalan,” jelasnya.
BKKBN sendiri telah mengambil berbagai langkah untuk meningkatkan kualitas dan inklusivitas data kependudukan. BKKBN punya pusat data bernama Siga alias Sistem Informasi Kelurga, yang menyangkut data kependudukan setiap keluarga mulai dari identitas, pendidikan hingga riwayat penyakit dalam keluarga itu.
“Kami berharap dengan adanya data yang lebih inklusif, program-program kependudukan dan keluarga berencana dapat memberikan dampak yang lebih signifikan dan merata bagi seluruh masyarakat Indonesia,” pungkasnya.
Reporter: Yusuf Permana
Editor: Aditya











