PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Tingkat hunian di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang anjlok mencapai 25 persen di bulan Agustus 2024 ini. Anjloknya tingkat hunian di Tanjung Lesung dipengaruhi oleh hebohnya isu bencana gempa bumi Megathrust di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut yang berpotensi terjadi tsunami setinggi 10-20 meter menerjang pesisir Banten Selatan tepatnya di sepanjang garis pantai Kabupaten Pandeglang.
General Manager Tanjung Lesung Beach Resort dan Hotel, Hendro Wahyono menyayangkan, kembali hebohnya isu Megathrust.
“Yang seolah-olah akan terjadi dalam waktu dekat ini. Harusnya mengabarkan terkait mitigasinya saja,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, melalui sambungan telepon selularnya, Jumat, 23 Agustus 2024.
Jadi, dari BMKG itu lebih menekankan, kepada kesiapan semua stakeholder akan menghadapi bencana Megathrust.
“Hanya peringatan saja untuk diingat dan diketahui dengan ditindaklanjuti langkah nyata. Mengedukasi semua lapisan masyarakat,” katanya.
Akan tetapi, sangat disayangkan yang diboomingkan itu ancaman bencananya sementara mitigasi bencananya tidak begitu dikedepankan. Padahal paling penting itu mitigasi bencananya.
“Namun karena yang ramai itu bencananya ya membuat masyarakat menjadi ketakutan. Sehingga banyak tamu sudah booking jadi mikir-mikir,” katanya.
Padahal, potensi ini setiap tahunnya terus diulang-ulang. Lantaran tidak ada alat canggih yang dapat mendeteksi atau memprediksi waktu tepat akan terjadi gempa.
“Namun terus terulang lagi, dan lagi. Membuat kunjungan sepi dan berimbas juga kepada masyarakat,” katanya.
Selain, kepada masyarakat, kasihan juga kepada karyawan.
“Kalau kunjungan ramai kan, masyarakat juga ikut merasakan. Banyak wisatawan jajan dan belanja buat oleh-oleh maupun buat dikonsumsi di lokasi wisata,” katanya.
Dampak dari isu Megathrust menyebabkan terjadinya penurunan income atau pendapatan pelaku pariwisata dan masyarakat.
“Harusnya BMKG menjelaskan secara detailnya untuk mengedukasi. Namun setiap tahun dan menjelang akhir tahun masyarakat dibuat gamang dengan isu Megathruts,” katanya.
Isu Megatrust ini terus diulang namun bentuk tindaklanjutnya masih minim perhatian. Artinya kesiapan tempat evakuasi memenuhi standar sebagai tempat titik kumpul ataupun pengungsian korban bencana.
“Kalau di Tanjung Lesung sendiri kita sudah memenuhi sebagai tempat wisata aman karena memang kita pasang plang nama jalur evakuasi dan titik kumpulnya,” katanya.
Oleh karena itu, kepada wisatawan akan berlibur, situasi dan kondisi di Tanjung Lesung aman.
“Kalau aman harusnya tingkat okupansi penuh. Namun karena ada isu Megathrust membuat tingkat okupansi turun 25 persen, bookingan harusnya full penuh setiap akhir pekan masih menyisakan 75 persen,” katanya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang Rahmat Zultika mengatakan, isu Megathrust dikeluhkan oleh para pelaku pariwisata di Pandeglang.
“Karena banyak tamu yang mendadak membatalkan kunjungannya. Padahal sudah booking jauh hari,” katanya.
Rahmat menjelaskan, isu Megatrust ini tentu sangat berdampak terhadap sektor pariwisata.
“Kondisi ini terjadi karena secara histori Pandeglang sendiri memang pernah dilanda tsunami senyap. Nah ketika isu itu ramai ya otomatis membuat sebagian orang takut itu terjadi di hari itu,” katanya.
Harapan para pelaku pariwisata, diungkapkan Rahamat, jangan dibesarkan isu ancaman tsunaminya. Tetapi langkah konkritnya.
“Melakukan mitigasi. Misal memperbanyak pasang alat atau alarm bencana gempa bumi dan tsunami. Khususnya di daerah pesisir pantai Selatan Banten,” katanya. (*)
Editor: Bayu Mulyana












