SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Setelah pemblokiran gerbang SDN Petir 1 dengan tumpukan batu yang mengejutkan warga, pihak sekolah akhirnya bisa sedikit bernapas lega. Batu-batu tersebut mulai diangkut pada Kamis siang, 24 Oktober 2024, untuk mengakhiri gangguan terhadap aktivitas belajar mengajar yang berlangsung selama beberapa hari.
Empat orang terlihat bekerja di lokasi, memasukkan batu-batu tersebut ke dalam bak truk. Pengangkutan dilakukan setelah siswa dan guru selesai beraktivitas di sekolah, memastikan proses ini tidak mengganggu kegiatan belajar.
Eti Rusmiati, salah seorang guru di SDN Petir 1, mengungkapkan bahwa kejadian ini sangat mengejutkan. “Ini kejadian pertama, tentu adanya batu ini sangat mengganggu dan membahayakan. Tentu siswa ataupun guru yang mau masuk pintu gerbang, mereka harus berhati-hati,” ujarnya.
Rusmiati juga mengakui dampak emosional yang dirasakan para siswa akibat insiden ini. Banyak dari mereka yang kecewa, marah, bahkan menangis melihat kondisi sekolah yang mereka cintai. “Psikologis anak merasa terganggu. Tadi pagi setelah melihat batu ini, anak-anak di kelas semua bicara dan mempertanyakan. Ada yang kaget, sedih, marah, kesal, bahkan ada juga yang menangis,” lanjutnya.
Pihak sekolah berharap tidak ada lagi tindakan sepihak dari mereka yang mengaku sebagai ahli waris, yang bisa mengganggu jalannya pendidikan. “Kami berharap proses belajar mengajar bisa berjalan dengan lancar, dan hasil persidangan bisa dimenangkan oleh pihak sekolah,” kata Eti.
Sementara itu, Kapolres Serang AKBP Condro Sasongko menegaskan bahwa sengketa lahan SDN Petir 1 masih dalam proses persidangan. “Proses hukumnya sedang berjalan di pengadilan perdata. Persidangan sudah berjalan enam kali, dan hasilnya masih kita tunggu,” ujarnya.
Kapolres juga mengingatkan agar seluruh pihak menunggu hasil resmi dari pengadilan. Sebelum adanya keputusan hukum yang tetap, proses belajar mengajar di SDN Petir 1 diharapkan bisa terus berjalan tanpa gangguan. “Jika ada pelanggaran hukum, penegakan akan dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya.
Editor : Merwanda











