SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Sebanyak 18.418 keluarga di Kota Serang masuk dalam kategori risiko stunting.
Meski mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2023 sebanyak 23.744. Namun, angka tersebut terbilang masih cukup tinggi.
Pemerintah Kota Serang berupaya untuk menurunkan angka keluarga risiko stunting (KRS) itu dengan memberikan bantuan makanan bergizi. Keluarga itu juga diberikan berupa pelatihan untuk membuat makanan bergizi bagi anak mereka.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Serang, Anthon Gunawan, mengatakan, berdasarkan hasil verifikasi dan validasi yang dilakukan oleh pihaknya, masih banyak keluarga di Kota Serang masuk dalam kategori berisiko stunting.
“Relatif pada ada penurunan ya, karena kemarin itu hasil validasi data kita masih di angka 20 ribuan, tapi sekarang angka kita 18.421. Jadi angka kita cukup tinggi,” kata Anthon, Selasa, 29 Oktober 2024.
Anthon mengatakan, terdapat kriteria keluarga yang masuk dalam kategori stunting.
“Kriterianya banyak. Misalkan lagi hamil, suaminya merokok, mau sehat mau enggak itu masuk KRS,” ungkap Anthon.
Menurut Anthon, saat ini angka anak stunting di Kota Serang sebesar 22,4 persen. Angka tersebut masih belum mencapai target yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar 14 persen.
“Stunting kita ada di angka 22,4 persen, di mana target dari pemerintah sebelumnya tahun 2024 ini 14 persen prevalensinya,” tutur Anthon.
Untuk itu, Anthon mengaku, Pemkot Serang telah melakukan penyuluhan di seluruh titik kecamatan yang ada di Kota Serang untuk menurunkan angka risiko stunting.
“Itu tadi melalui diberikan penyuluhan, bagaimana makanan yang kira-kira bisa menumbuh kembangkan anak,” ujar Anthon.
Anthon mengaku, kesulitan pemerintah untuk menurunkan angka KRS ini, apabila stunting tersebut merupakan penyakit bawaan.
“Penyakit bawaan itu yang mungkin harus ada ekstra, langkah-langkah ekstra. Jadi disembuhkan dulu penyakitnya. Harus bisa mengetahui lebih dini, sehingga langkah-langkah penyelesaiannya bisa lebih efektif,” ucap Anthon.
Editor: Agus Priwandono











