SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ratu Tani di Desa Kebon Ratu, Kecamatan Lebakwangi, Kabupaten Serang mulai menerapkan Indeks Pertanaman (IP) 400 sistem penanaman padi selama empat kali dalam satu tahun.
Upaya tersebut dilakukan sebagai strategi untuk meningkatkan produktifitas padi di tengah terus menyusutnya lahan pertanian di Kabupaten Serang, serta mewujudkan program swasembada pangan yang sedang digagas oleh persiden Prabowo Subianto.
Ketua Gapoktan Ratu Tani, Nurul Ulum mengatakan, IP 400 telah mulai diperkenalkan kepada para petani di Kebon Ratu sejak tahun 2024 lalu. Upaya tersebut dilakukan untuk mengejar produktifitas padi di Kabupaten Serang.
“Yang menjalankan IP 400 ini ada ada 4 kelompok tani. Kita mencoba merubah kebiasaan para petani karena biasanya mereka hanya menggarap 2 atau bahkan tiga kali dalam satu tahun. Sekarang kita coba kenalkan IP400,” katanya, Minggu 23 Februari 2025.
Ulum mengatakan, ditengah terus menyusutnya lahan pertanian akibat adanya pembangunan dan alih fungsi lahan, perlu adanya terobosan-terobosan agar produksi pangan di Kabupaten Serang tetap stabil dan bisa memenuhi kebutuhan pangan warga Kabupaten Serang. Salah satunya ialah dengan menerapkan IP400
“Solusinya program percepatan tanam IP400. Sebetulnya ini tantangan ya untuk mengajak petani meningkatkan pola tanam, yang tadinya dua sampai tiga kali bisa jadi 4 kali tanam dalam satu tahun,” ujarnya.
Ulum mengaku, program IP 400 sangat cocok diterapkan di wilayah Desa Kebon Ratu. Pasalnya, ketersediaan air di desa tersebut cukup baik dan bisa mengalir sepanjang tahun karena lokasinya dekat dengan irigasi teknis.
“Selain itu, ada juga sumber air dari sumur bor yang bisa digunakan untuk pengairan sawah apabila irigasi tidak bisa mengalirkan air, makanya wilayah Kebon Ratu sangat cocok untuk program ini,” ujarnya.
Saat ini, baru ada sebanyak empat petani yang mau mengembangkan pola tanam IP400 di Kebon Ratu dengan luas lahan pertanian mencapai 10 hektare. Ia mengaku terus berupaya untuk mengajak petani-petani lainnya agar mau menerapkan pola tanam IP 400.
Padahal, di Desa Kebon Ratu ada sekitar enam kelompok tani dengan total luas lahan mencapai 265 hektar yang cukup potensial untuk menerapkan pola taman IP400.
“Sekarang sudah ada 4 orang dalam lahan 10 hektar yang sudah menerapkan IP 400 tapi perlahan perlahan Kita merubah kebiasaan walaupun sangat susah dan saya bekerja sama dengan teman penyuluh dinas untuk menerapkan IP400,” ujarnya.
Dalam penerapan IP400 sangat dibutuhkan mekanisasi untuk mengolah tanah sekaligus mengelola lahan pertanian. Di lahan seluas 10 hektare yang menerapkan IP400, pihaknya bekerjasama dengan maxxi tani sehingga bisa menggunakan berbagai teknologi untuk mengolah lahan pertanian. Selain itu, perlu adanya bibit-bibi yang super genjah dengan masa tanam yang relatif singkat yakni tiga bulan.
“Begitu panen kita langsung garap olah tanah dan langsung bisa tanam. Bibit memang sudah tersedia dan ini juga kami bekerja sama dengan PT maxi tani mereka punya alat-alat pertanian, mulai dari mesin untuk olah tanah, transplanter, drone untuk pemupukan dan alat-alat lainnya,” ujarnya
Dengan menerapkan program IP400, dalam satu tahun 10 hektare lahan di Kabupaten Serang diperkirakan bisa menghasilkan padi sebanyak 240 ton per tahun. “Dengan asumsi 6 ton per hektare setiap masa panen, maka setiap masa panen bisa menghasilkan 60 ton,” ujarnya.
Menurutnya, program IP400 dan bantuan alat-alat mekanis dalam bertani, diharapkan bisa menarik minat generasi muda untuk bertani.
“Saya yakin program ini ada daya tarik sendiri untuk pemuda untuk bertani. Jadi ketika adanya mekanisasi ini mindset petani yang kumuh yang dekil akan hilang karena dibantu dengan alat-alat modern. Sehingga minat anak muda bisa tumbuh,” ujarnya.
Ia pun berharap agar pemerintah bisa memberikan bantuan alat-alat pertanian untuk menunjang program IP400 di Desa Kebon Ratu.
Editor: Abdul Rozak











