CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Buku No Lc No Party, merupakan karya jurnalistik Mang Pram yang berasal dari kompilasi tulisanya di portal media Kompasiana.
Mang Pram sendiri merupakan jurnalis asal Kota Cilegon yang fokus terhadap berbagai isu sosial kemasyarakatan di Kota Cilegon, khususnya bisnis porstitusi dan hiburan malam di Kota Cilegon.
Pram merekam seluruh informasi hasil reportasenya yang mendalam, hasil penelusuran dan investigasinya secara langsung kedalam tulisan-tulisan yang sering kali menimbulkan gejolak di masyarakat.
Ihwal isi buku itu lebih jelas di bedah dalam kegiatan Bedah Buku No Lc No Party dalam rangka memperingati hari pers nasional di caffe Luang Persona pada Rabu (26/2) yang dihadiri oleh berbagai tokoh di Kota Cilegon.
Tokoh yang hadir sekaligus narasumber di antaranya adalah Kyai Haji Hafidin, ulama penggerak di Banten, Ahmad Fauzi Chan, Pemimpin media Fakta Banten, serta Ismatullah, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cilegon kemudian ada budayawan Kota Cilegon, Kang Indra Kusuma.
Pram selaku penulis menyampaikan bahwa dirinya tidak akan menjustifikasi sebagian pihak melalui buku ini, dirinya menyampaikan hanya memotret seluruh informasi dan kejadian yang terjadi di Kota Cilegon.
“Saya tidak menjustifikasi profesi LC atau profesi mereka tidak baik,” tuturnya.
Pram menyampaikan bahwa proses reportase karya jurnalistik ini dilakukan secara langsung, datang ke lokasi-lokasi yang sudah terkenal sebagai sarang porstitusi di Kota Cilegon.
“Saya sebagai penulis atau sebagai wartawan lebih enak jika apa yang kita tulis, lebih baik kita hadir langsung, melihat hiburan malam seperti apa,” ungkapnya.
Dirinya bahkan mengaku pernah menghabiskan Rp900 ribu untuk hanya sekedar mengobrol dengan salah seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) di salah satu aplikasi chating online.
Menurutnya sebagai Kota Industri, Cilegon dihuni oleh banyak pendatang dari berbagai daerah bahkan luar negeri, yang memperkeruh persoalan porstitusi di Kota Cilegon.
“Apalagi banyak pendatang, banyak industri, persoalan sosial lebih banyak,” tutup Mang Pram.
Editor: Abdul Rozak











