CILEGON,RADARBANTEN.CO.ID – Desember 2024, asa Henny Fitri Juliana untuk bisa kembali bisa beraktivitas normal kembali pupus. Penyakit radang sumsum tulang belakang yang dideritanya sejak 2020 kembali parah.
Bukan hanya parah, justru semakin parah, karena bukan hanya kaki yang alami lumpuh, kini menjalar ke kedua tangannya.
Perempuan kelahiran 1983 itu pun harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon untuk mendapatkan penanganan medis yang serius.
Perjuangan ibu satu anak ini dalam melawan penyakit dengan nama lain myelitis transversa ini dimulai sejak tahun 2020.
Sebelum tubuh bagian bawah lumpuh, Henny alami kesemutan, baal, keram, dan kerap jatuh. Namun saat itu Ia mengira penyakit ringan biasa atau karena keseleo.
Namun Mei 2020, Henny mulai merasakan kakinya tidak bisa digerakan.
Saat itu, perempuan yang berdomisili di Cikeusik, Kabupaten Pandeglang itu belum tahu penyebabnya apa.
Setelah beberapa bulan lumpuh, pada September 2020, Henny baru tahu jika semua itu karena penyakit radang sumsum tulang belakang.
“Ada gangguan di saraf gara-gara virus. Dokter juga belum tau virus mana yang ngigit antara salmonella dan herpes,” tutur Henny.
Didampingi suami dan anaknya, perempuan ber-KTP Cilegon ini mengaku belum tahu dari mana asal muasal virus itu.
Menurut dokter, obat untuk menyembuhkanya pun belum ada di Indonesia, hanya ada penghilang nyeri, vitamin, dan fisioterapi sebagai “senjata” melawan penyakit tersebut.
2020 hingga 2023, Heny dan keluarga melawan penyakit tersebut dengan biaya sendiri, alhasil, sudah tak terhitung uang yang habis digunakan karena Ia pernah satu kali berobat menghabiskan uang lebih dari Rp4 juta. Namun, kondisi tak kunjung membaik.
Tahun 2023, Henny mulai menggunakan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan untuk membiayai upaya medis dalam melawan penyakit tersebut.
Rawat inap, fisioterapi, hingga obat semuanya ditanggung oleh JKN yang membuat Henny dan suami tak perlu pusing memikirkan biaya pengobatan di rumah sakit.
Upaya medis itu sempat membuahkan hasil, jelang akhir 2024, Henny sudah kembali merasakan kaki-kakinya, dan mulai belajar kembali berdiri.
Namun setelah pulang dari RSKM dan melanjutkan perawatan mandiri di Cikesik, Desember 2024, Henny kembali drop. Dan mirisnya justru semakin parah, kini tangannya pun tak bisa bergerak.
Ia pun hanya bisa menggerakan organ di bagian kepala saja. Seperti berbucara, melihat, dan menggelengkan kepala. Selebihnya, Henny harus ditolong oleh anggota keluarga.
Henny saat ini sedang kembali berjuang melawan radang sumsum tulang belakang. Perempuan yang sebelumnya berprofesi sebagai guru ini tetap optimis bisa sembuh.
Ia mengaku bersyukur upayanya melawan penyakit itu ditemani keluarga dan JKN. Dukungan moril dari keluarga sangat berperan penting, kondisi tersebut kemudian didukung dengan JKN yang mengcover seluruh biaya kesehatan.
Sebagai pasien peserta JKN, Henny selama dua tahun berobat di RSKM Cilegon tak pernah mendapatkan perlakuan berbeda dengan pasien mandiri.
“Enggak dibedain, malah di sini baik-baik, mau ngelap, banyak nanya, impusan habis malam tetap diganti, perawat juga kayanya gak suka tidur, siaga terus walaupun tengah malam,” tuturnya.
Henny juga menyampaikan terima kasih kepada jajaran manajemen maupun tenaga medis di RSKM karena telah sabar mengobati dan merawatnya selama ini.
Henny berharap kondisi yang dialaminya jadi pelajaran untuk masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan dan jangan ragu menjadi peserta JKN.
Berkat peserta JKN yang selama ini patuh membayar iuran meskipun dalam keadaan sehat, urusan biaya pengobatan tak menjadi kendala dalam proses pengobatan selama ini. (*)

