CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kota Cilegon bergerak cepat menanggulangi genangan air dan banjir yang kembali terjadi di Jalan Lingkar Selatan (JLS), tepatnya di depan dealer Honda KM 3.
Aksi tanggap ini dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon, Sabtu (13/4), di bawah pemantauan langsung Wali Kota Cilegon Robinsar.
Kepala Dinas PUPR Kota Cilegon, Tb Dendi Rudiatna, menjelaskan bahwa genangan terjadi akibat tersumbatnya sodetan jalan menuju saluran air.
Sumbatan disebabkan oleh pasir dan sedimentasi yang menutup jalur air, sehingga aliran tidak bisa masuk ke saluran pembuangan.
“Kami bersama Pak Wali langsung ke lapangan untuk ambil tindakan cepat. Setelah dicek, ternyata saluran mampet oleh pasir dan got tertutup. Kami langsung turunkan beko untuk normalisasi saluran dan menambah box culvert atau bokafet agar daya tampung air meningkat,” jelas Tb Dendi.
Sebelumnya, saluran hanya memiliki daya tampung sekitar 40 cm. Kini ditambah dengan box culvert berukuran 1 meter agar dapat menampung volume air lebih besar saat hujan deras.
Selain di titik KM 3 JLS, upaya serupa juga dilakukan di kawasan PCI. Di sana, genangan juga disebabkan oleh sampah dan endapan pasir yang menghambat aliran air.
Tb Dendi mengakui perlunya sistem monitoring dan pemeliharaan rutin di sepanjang jalur JLS yang memiliki panjang sekitar 16 kilometer.
“JLS ini digunakan berbagai jenis kendaraan, pengelolaannya harus serius. Kita akan bentuk tim pemeliharaan yang bisa diturunkan dua sampai tiga kali sehari. Tapi ini butuh dukungan anggaran memadai, terutama di titik-titik rawan seperti Ciwandan,” tambahnya.
Di sisi lain, Kepala BPBD Kota Cilegon, Suhendi, menyampaikan bahwa pihaknya turut membantu penanganan genangan dengan memompa air menggunakan pompa alkon.
Namun, ia menekankan bahwa solusi jangka panjang tetap harus dilakukan melalui pelebaran saluran dan peninggian jalur rendah.
“Kami juga bantu dengan pompa untuk percepatan surut. Tapi kalau hanya pompa, sifatnya sementara. Titik genangan seperti di Kalitimbang itu memang cekungan, air berkumpul di sana karena lebih rendah dibanding jalan sekitar,” jelas Suhendi.
Editor: Abdul Rozak











