SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pengamat Kebijakan Publik, Ahmad Sururi, menanggapi perihal hasil survei dari lembaga Indikator Politik Indonesia tentang kupuasan masyarakat terhadap kinerja 100 hari gubernur di Pulau Jawa.
Sururi mengatakan, hasil survei itu tidak menjadi indikator mutlak dalam mengukur kinerja gubernur. Namun, hal ini bisa menjadi bahan evaluasi informasi dan inovasi ke depan bagi Gubernur Banten dan jajarannya.
Ia menilai, terdapat korelasi antara survei dengan popularitas.
Pada titik ini, popularitas Andra Soni yang kurang dikenal dan minim informasi pasca menjadi Gubernur Banten menjadi salah satu faktor penyebab meskipun tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil survei.
“Karena kalau kita melihat secara objektif, kinerja dan kerja nyata gubenur-gubernur di Pulau Jawa tidak ada yang benar-benar dominan,”ucapnya, Minggu, 1 Juni 2025.
Ia menyebut bahwa kini hasil survei sukar ditentukan oleh algoritma media sosial. Para gubernur secara konsisten membangun branding dengan terus-menerus memberikan informasi kerja-kerjanya ke publik.
“Jadi memang ada korelasi antara survei dan popularitas,”katanya.
Sebelumnya, Indikator Politik Indonesia melakukan survei atas kepuasan masyarakat terkait dengan kinerja 100 hari gubernur dan wakil gubernur di enam provinsi, yakni Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Banten. Survei dilakukan pada 12-19 Mei 2025.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mendapatkan skor paling tinggi dengan nilai kepuasan mencapai 94.7. Sementara, wakilnya 61.3.
Lalu disusul oleh Daerah Istimewa Yogyakarta dengan skor kepuasan masyarakat aebesar 83.8 untuk gubenurnya dan 76.0 untuk wakilnya.
Di posisi ketiga, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dengan skor 76.3, dan wakilnya 71.7.
Gubernur Banten, Andra Soni, dan Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, mendapatkan skor 50.8 dan 42.3.
Meski begitu, dua program Andra-Dimyati juga mendapatkan respon positif di atas 50 persen adalah Program Sekolah Gratis untuk siswa SMA/SMK, SKh swasta serta pemeriksaan kesehatan gratis.
Editor: Agus Priwandono











