CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola komunikasi masyarakat modern. Media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Namun, di balik kemudahan akses dan luasnya jangkauan informasi, potensi perpecahan dan konflik antar sesama juga meningkat apabila etika dalam bermedia sosial tidak dijaga.
Dalam laman resmi Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur, dijelaskan bahwa media sosial seharusnya menjadi sarana silaturahmi dan menyebar kebaikan.
Sayangnya, tidak sedikit pertikaian antar anak bangsa yang dipicu oleh unggahan tanpa etika, opini tanpa dasar, bahkan penyebaran hoaks yang berujung pada perpecahan.
Islam sebagai agama rahmatan lil alamin menuntun umatnya untuk senantiasa berbuat baik, termasuk dalam aktivitas bermedia sosial. Seorang muslim yang taat seyogianya memegang teguh akhlak mulia, baik di dunia nyata maupun maya.
Dalam artikel tersebut, NU Jatim memaparkan enam etika bermedia sosial menurut Islam yang patut menjadi pedoman umat Muslim:
Pertama, jadikan media sosial sebagai sarana menebar kebaikan. Unggahan yang positif dan sarat makna menjadi ladang pahala dan mencerminkan kejernihan akhlak pengguna.
Kedua, lakukan verifikasi dan tabayyun atas setiap informasi yang akan dibagikan. Budaya cek dan ricek penting dilakukan agar tidak terjebak menyebar kabar bohong atau fitnah.
Ketiga, sadari bahwa dunia maya sama seriusnya dengan dunia nyata. Jejak digital tidak bisa dihapus sepenuhnya, dan pemilik akun dapat ditelusuri. Maka, komentarlah dengan bijak, seolah menyapa langsung di kehidupan sehari-hari.
Keempat, tanamkan kesadaran akan hisab atas segala perbuatan. Apa pun yang diunggah akan menjadi catatan amal yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak.
Kelima, merasa selalu diawasi oleh malaikat utusan Allah. Kesadaran ini menjadi pengingat agar pengguna media sosial senantiasa berpikir sebelum bertindak.
Keenam, tanamkan keikhlasan dalam setiap unggahan tanpa mengumbar riya. Niat semata karena Allah akan menjaga hati dari keinginan popularitas atau pujian kosong.
Dengan menerapkan etika ini, umat Islam diharapkan mampu menjaga silaturahmi meski hanya di ruang digital. Media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ladang dakwah dan penyambung ukhuwah Islamiyah di era modern.
Editor: Agus Priwandono











