CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Selama tahun 2025, 77 kasus kekerasan terhadap anak terjadi di Kota Cilegon.
Wakil Walikota Cilegon Fajar Hadi Prabowo angkat bicara soal tingginya kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak di Kota Cilegon.
Ia menegaskan pentingnya langkah preventif dan keterlibatan aktif guru serta orangtua dalam menjaga kondisi psikologis dan fisik anak-anak.
Hal itu disampaikan Fajar usai menghadiri peringatan Hari Anak Nasional ke-41 di Aula Setda Kota Cilegon, Sabtu 26 Juli 2025.
Angka tersebut dinilainya mengkhawatirkan dan perlu disikapi secara serius.
“Yang paling penting itu, jangan reaktif, tapi preventif. Alhamdulillah, Dinas (DP3AP2KB) juga sudah banyak program pencegahan. Minggu lalu kita rapat bareng PGRI, guru-guru diminta untuk melakukan screening ke anak-anak, untuk mendeteksi apakah ada korban kekerasan,” ujarnya.
Fajar mencontohkan beberapa tanda yang patut dicurigai sebagai gejala kekerasan pada anak.
“Biasanya anak-anak yang ceria tiba-tiba jadi murung, ada memar di tubuh, atau bahkan bolos sekolah dalam waktu lama. Ini harus jadi perhatian,” tambahnya.
Ia juga mengapresiasi upaya Kepala DP3AP2KB Kota Cilegon, Lia Nirmala, yang tetap fokus mendorong penghapusan kekerasan terhadap anak meski di tengah kesibukan birokrasi.
“Bu Lia juga masih terus memikirkan bagaimana caranya bukan cuma dikurangi, tapi agar kekerasan itu benar-benar tidak ada,” puji Fajar.
Sebagai langkah pencegahan di tingkat keluarga, Fajar mendorong orangtua untuk meningkatkan kualitas komunikasi dengan anak.
“Misalnya, saat anak pulang sekolah diajak ngobrol, ditanya kabarnya, ada apa di sekolah. Dari situ kita bisa tahu kalau ada yang nggak beres,” katanya.
Fajar berharap Cilegon menjadi kota yang ramah anak, di mana semua pihak dari sekolah, keluarga, hingga lingkungan turut menjaga dan melindungi hak serta tumbuh kembang anak.
Editor: Bayu Mulyana











