SERANG,RADARBANTEN.CO.ID – Predikat Kota Layak Anak (KLA) bagi Kota Serang masih belum beranjak dari level pratama.
Selama empat tahun terakhir, status tersebut belum menunjukkan peningkatan akibat berbagai indikator yang belum terpenuhi secara optimal.
Tingginya angka stunting dan kasus kekerasan terhadap anak turut menjadi faktor penghambat. Padahal, pemenuhan gizi dan perlindungan terhadap anak merupakan indikator penting dalam penilaian kota layak anak.
Minimnya kolaborasi lintas sektor serta keterlibatan masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri. Tanpa peran aktif seluruh pihak, peningkatan predikat dari pratama menuju madya dan nindya akan sulit tercapai.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Serang, Anthon Gunawan mengatakan, saat ini, prevalensi stunting di Kota Serang mencapai 22,9 persen, sementara standar ideal dalam penilaian KLA adalah mendekati nol persen.
“Kesehatan, termasuk pemenuhan gizi anak, adalah hak dasar yang menjadi indikator utama. Tapi buktinya angka stunting kita masih tinggi,” katanya, Minggu, 27 Juli 2025.
Tak hanya itu, tingginya kasus kekerasan terhadap anak turut memengaruhi penilaian. Menurut Anthony, perlindungan anak menjadi aspek penting dalam KLA.
“Kasus kekerasan anak ini sangat berpengaruh, karena berkaitan langsung dengan perlindungan terhadap anak,” katanya.
Meski demikian, Anthon menegaskan, Kota Serang tetap dinyatakan layak anak karena sudah menyandang predikat pratama, sementara sejumlah daerah lainnya bahkan belum memperoleh penilaian sama sekali.
“Sebetulnya sudah layak anak, tapi masih perlu perbaikan. Beberapa daerah bahkan belum punya predikat,” ujarnya.
Namun ia mengakui bahwa Kota Serang masih stagnan dalam empat tahun terakhir dan belum berhasil naik level.
“Tapi Alhamdulillah kami masih bertahan. Karena ada juga daerah lain yang predikatnya justru hilang karena penilaiannya dilakukan setiap tahun,” ungkapnya.
Editor: Bayu Mulyana











