LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Taman Salahaur yang terletak di pusat Kota Rangkasbitung, tepatnya di Kampung Salahaur, Kelurahan Cijoro Lebak, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, kini tampak memprihatinkan.
Sejumlah fasilitas umum yang seharusnya menjadi daya tarik taman kini rusak. Kursi taman banyak yang patah dan berkarat, serta ayunan yang tidak bisa lagi digunakan karena rantainya putus atau dudukannya hilang. Kondisi ini tidak hanya merusak estetika taman, tetapi juga membahayakan keselamatan pengunjung, khususnya anak-anak.
Warga sekitar menyayangkan minimnya perhatian dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lebak, terhadap kondisi taman tersebut. Padahal, Taman Salahaur menjadi tempat favorit warga untuk bersantai, berolahraga, hingga berkumpul bersama keluarga.
Chandra, aktivis lingkungan sekaligus alumni Mapala Kumbila Universitas Setiabudi Rangkasbitung (USBR), angkat bicara mengenai kondisi tersebut. Ia menilai pemerintah daerah terlalu abai terhadap pengelolaan ruang terbuka hijau yang seharusnya menjadi paru-paru kota dan pusat interaksi sosial masyarakat.
“Sangat disayangkan, taman yang bisa jadi simbol peradaban kota justru terbengkalai seperti ini. DLH Lebak seolah menutup mata terhadap kerusakan fasilitas taman,” ujarnya kepada RADARBANTEN.CO.ID saat dihubungi melalui telepon selulernya, Minggu 3 Agustus 2025.
Chandra menambahkan, kerusakan fasilitas di taman tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga pada citra Kota Rangkasbitung sendiri. “Bagaimana masyarakat bisa peduli lingkungan kalau contoh kecil seperti taman saja dibiarkan rusak? Pemerintah harus introspeksi,” tambahnya.
Menurutnya, pembiaran terhadap taman bisa menjadi bukti lemahnya sistem perawatan dan pengawasan dari pihak berwenang. “Ini bukan hanya soal taman, tapi juga soal tanggung jawab terhadap kualitas hidup masyarakat. Taman bukan sekadar estetika, melainkan kebutuhan ruang publik yang sehat dan aman,” katanya menegaskan.
Hal serupa juga diungkapkan Ilham Maulana Raisa warga Rangkasbitung sekaligus aktivis Mahasisa. Dia menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi Taman Salahaur. Menurut Ilham, taman adalah wajah kota dan membiarkannya rusak sama saja dengan mencoreng citra Rangkasbitung di mata masyarakat maupun pengunjung luar daerah.
“DLH harus segera bertindak. Ini bukan hanya soal taman rusak, tapi soal komitmen terhadap tata kota dan pelayanan publik. Jika terus dibiarkan, lama-lama masyarakat akan kehilangan ruang rekreasi yang murah dan mudah dijangkau,” ujar Ilham.
Ilham berharap, DLH Lebak tidak hanya melakukan perbaikan sementara, tetapi juga merancang sistem pemeliharaan yang berkelanjutan. “Kami siap membantu dalam bentuk advokasi atau kerja sama lintas komunitas, asal ada niat baik dari pemerintah untuk memperbaiki ini,” tuturnya.
Editor: Mastur Huda











