KABUPATEN TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Sebagai orang tua, tentu kita ingin anak kita tumbuh sehat bukan hanya secara fisik dan mental, namun juga dengan senyum yang sehat dan percaya diri. Tapi tahukah Kamu, bahwa banyak masalah gigi pada orang dewasa ternyata berawal dari kebiasaan kecil dan perkembangan otot mulut yang tidak optimal sejak masa kanak-kanak.
Kini, dunia kedokteran gigi anak terus berkembang. Salah satunya adalah pendekatan yang mulai banyak digunakan dan terbukti efektif adalah miofungsional, sebuah cara baru untuk merawat gigi anak sejak dini, bahkan sebelum mereka membutuhkan kawat gigi.
Myofunctional therapy adalah pendekatan yang fokus pada memperbaiki fungsi otot-otot di sekitar mulut seperti otot bibir, pipi, dan lidah yang ternyata sangat mempengaruhi cara rahang dan gigi tumbuh.
Kalau fungsinya tidak seimbang, bisa terjadi maloklusi, yaitu kondisi di mana gigi atas dan bawah tidak sejajar ketika anak menutup mulut.
Menariknya, perawatan ini tidak memerlukan alat-alat invasif.
Fokusnya pada latihan otot, pembiasaan posisi lidah yang benar, hingga koreksi cara menelan dan bernapas. Semua dilakukan dengan lembut dan menyenangkan untuk anak.
“Masalah otot di area mulut anak hanya dapat dimodifikasi secara efektif saat masa pertumbuhan. Karena itu, pendekatan miofungsional sangat dianjurkan sejak usia dini,” ujar drg. Priska Angelia Budiono, Sp.KGA, Spesialis Kedokteran Gigi Anak dalam keterangan resminya dikutip RADARBANTEN.CO.ID, Minggu 17 Agustus 2025.
Dimana kata drg Priska, perawatan ini bisa dimulai sejak usia 4 tahun untuk anak dengan perkembangan normal, Tujuannya sederhananya untuk menyiapkan “rumah” yang nyaman bagi gigi permanen saat waktunya tumbuh, sehingga posisi gigi tidak berantakan dan bisa mengurangi kebutuhan memakai kawat gigi di kemudian hari.
“Jadi, tujuan utama myofungsional therapy tersebut adalah untuk membantu gigi tumbuh di tempat yang ideal dengan mengoptimalkan fungsi otot dan rahang sedini mengoptimalkan,” ujar drg. Priska.
Selain itu kata drg. Priska., anak-anak dengan kebutuhan khusus, seperti anak dengan spektrum autisme, down syndrome, atau gangguan perkembangan lainnya memiliki tantangan tersendiri saat menjalani pemeriksaan gigi. Sebab, banyak dari mereka merasa takut, tidak nyaman, atau sulit diajak bekerja sama.
Meski begitu, ada solusi yang lebih bersahabat. Sedasi inhalasi menggunakan N₂O (Nitrous Oxide) menjadi pendekatan baru yang membantu anak lebih tenang selama perawatan.
Dimana, ini bukan pembiusan penuh, melainkan metode lembut yang membuat anak merasa rileks tanpa kehilangan kesadaran.
“Dengan sedasi inhalasi, anak menjadi lebih tenang dan nyaman. Mereka tidak trauma, orang tua juga merasa lebih tenang. Ini sangat membantu, terutama untuk anak yang belum kooperatif atau memiliki sensitivitas tinggi,” terang drg. Priska.
Editor: Abdul Rozak











