SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kalau ngomongin musik Indonesia pada awal milenium, rasanya langsung kebayang suasana khas era 2000-an. Saat itu, industri musik Tanah Air lagi ramai-ramainya, dari band-band major label yang wara-wiri di TV, sampai geliat musik indie yang mulai terdengar gaungnya lewat radio kampus dan kaset bajakan.
Awal 2000-an bisa dibilang masa keemasan band Indonesia. Nama-nama seperti Sheila On 7, Padi, Dewa 19, Gigi, sampai Radja merajai chart musik.
Album fisik —CD dan kaset— masih jadi barang wajib yang diburu fans. Toko kaset di mal atau kios kecil pinggir jalan selalu ramai tiap ada rilis baru.
Koleksi album orisinil lengkap dengan lirik di dalamnya bikin banyak orang rela nabung demi bisa beli.
Di saat yang sama, musik indie juga mulai punya ruang sendiri.
Band seperti Efek Rumah Kaca, Mocca, The Upstairs, sampai Pure Saturday jadi simbol perlawanan kreatif terhadap industri besar. Mereka mendistribusikan karya lewat CD indie, radio komunitas, sampai gigs kecil di kafe atau kampus.
Ada kebanggaan tersendiri waktu bisa bilang, “Eh, gue tahu band ini sebelum terkenal”.
Belum ada Spotify atau YouTube, jadi radio dan majalah musik kayak HAI atau Rolling Stone Indonesia jadi sumber utama buat tahu musik baru.
Info soal gigs indie biasanya disebar lewat flyer fotokopian, mailing list Yahoo Groups, atau forum internet kayak Kaskus.
Konser kecil dengan tiket belasan ribu rupiah bisa jadi ajang kumpul komunitas yang hangat dan penuh energi.
Musik, waktu itu, juga erat kaitannya sama gaya hidup. Anak band identik dengan kaos hitam, jeans belel, dan sepatu Converse.
Scene indie sering dikaitkan dengan kultur pop-art, zine, dan semangat DIY (do it yourself). Sementara, yang ngefans band mainstream lebih sering terlihat dengan merchandise resmi dan rambut gondrong ala vokalis favoritnya.
Yang menarik, awal 2000-an adalah masa di mana musik bukan sekadar hiburan, tapi identitas. Lagu-lagu mellow Sheila On 7 sering jadi soundtrack PDKT anak SMA, sementara band indie seperti Mocca bikin generasi kampus merasa “beda” dan lebih artsy.
Vibe-nya campur aduk: ada romansa remaja, keresahan sosial, sampai semangat eksperimental yang bikin musik Indonesia berwarna.
Jadi, kalau sekarang lagi kangen suasana itu, coba deh putar ulang album lawas atau datang ke konser reuni band-band era 2000-an.
Vibe-nya enggak akan pernah sama dengan era digital sekarang, tapi justru itu yang bikin awal milenium terasa spesial di hati para penikmat musik Indonesia.
Editor: Agus Priwandono











