SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Tunggal putri Indonesia, Komang Ayu Cahya Dewi, memutuskan mundur dari Pelatnas PBSI Cipayung.
Atlet bulu tangkis peringkat 42 dunia ini akan melanjutkan karier bulu tanglisnya sebagai pemain profesional, mengikuti jejak Jonatan Christie yang telah terlebih dahu hengkang.
Dengan rangking dunia saat ini, Komang sebenarnya masih merupakan tunggal putri ketiga Indonesia, di bawah Putri Kusuma Wardani yang menempati rangking 7 dunia BWF dan Gregoria Mariska Tunjung yang menempati rangking 8 dunia.
“Komang akan melanjutkan perjalanan kariernya sebagai pemain independen. PBSI mengucapkan terima kasih atas dedikasi Komang selama berada di pelatnas dan mendoakan yang terbaik untuk perjalanan berikutnya,” demikian pernyataan resmi PBSI, Kamis, 4 September 2025.
Pengunduran diri Komang sebagai anggota Pelatnas PBSI tahun ini bukanlah yang pertama.
Sebelumnya, bulan Mei, Jonatan Christie dan Chico Wardoyo telah terlebih dahulu mundur dari pelatnas dan kini memilih jalur profesional.
Dalam kalender BWF tahun 2025 ini, Komang belum meraih gelar. Prestasi terbaiknya tahun 2025 yaitu pada bulan Januari, kala menjadi runner up Thailnad Master (Super 300).
Kala itu, atlet berusia 23 tahun itu di final kalah dari wakil tuan rumah, Pornpawee Chochuwong, lewat pertarungan tiga gim, 21-18, 16-21, 13-21.
Setelah itu, Komang kerap tergelincir di babak awal turnamen. Termasuk dalam ajang terakhir, Super 300 Macau Open 2025, pada 29 Juli-3 Agustus.
Komang tersingkir di babak 32 besar setelah kalah dari wakil China, Han Qian Xi, dengan skor 17-21, 22-20, 15-21.
Sebenarnya, awal bergabung dengan Pelatnas PBSI, Komang digadang-gadang sebagai salah satu talenta muda harapan Merah Putih. Itu karena Komang memiliki pukulan komplit untuk dapat bersaing di kancah elite dunia.
Komang sempat meraih medali perunggu tunggal putri pada SEA Games 2023 di Kamboja.
Di level nasional, Komang mendapatkan medali perak SEA Games 2023, medali perunggu Kejuaraan Asia Beregu 2024, dan medali emas Kejuaraan Asia Beregu Campuran 2025.
Editor: Agus Priwandono











