PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Sejarah mencatat, Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (571 M). Setelah Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah, yang pertama dibangun ialah masjid sebagai pusat dakwah dan pembinaan umat yang sekarang dikenal sebagai Masjid Nabawi.
Dalam kurun waktu lebih kurang 23 tahun, Nabi Muhammad melaksanakan tugasnya sebagai utusan Allah SWT untuk memperbaiki kerohanian umat manusia dan mewujudkan suatu peradaban yang maju.
Islam adalah agama yang bersifat universal, agama untuk semesta. Islam bukan untuk suku bangsa dan wilayah tertentu saja, tetapi agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil ‘alamin.
Adapun hari kelahiran Nabi Muhamad SAW jatuh pada hari Senin, 12 Rabiul Awal, tahun 571 Masehi. Allah memilihkan hari dan bulan kelahirannya (Maulid) demikian, bukan hari-hari dan bulan-bulan lain yang dinilai “baik” dalam Islam.
Waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal juga dikenal sebagai bulan Maulid atau Mulud yang diperingati setiap tahunnya di banyak tempat di pelosok dunia, termasuk di Indonesia.
Waktu kelahirannya disambut gembira oleh umat Islam sebagai simbol terbitnya fajar budi pekerti dan nilai-nilai luhur kemanusiaan serta keilahian.
Allah SWT tidak memilih hari kelahirannya pada malam lailatul qadar, malam nishfu sya’ban, hari Jumat, atau malam Jumat.
Allah SWT juga tidak memilih kelahiran Nabi Muhammad SAW pada Ramadan, bulan di mana Al-Qur’an diturunkan, atau asyhurul hurum (bulan-bulan mulia dalam Islam).
Lalu, kenapa Allah SWT memilih hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada hari Senin?
Mengutip dari website Kementerian Agama RI, bahwa hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dipilih pada hari Senin tentu ada hikmahnya.
Ulama terkemuka asal Kairo, Jalaluddin As-Suyuthi, dalam karyanya “Husnul Maqshid fi Amalil Mawlid” mengutip penjelasan Ibnul Haj Al-Abdari Al-Maliki Al-Fasi terkait hikmah di balik kelahiran Nabi Muhammad SAW pada hari Senin, Rabiul Awal.
Ada empat hikmah di balik kelahiran Nabi Muhammad SAW pada hari Senin, Rabiul Awal, yaitu:
1. Senin adalah hari di mana Allah SWT menciptakan pohon.
Pada hari Senin mengingatkan pada penciptaan makanan pokok, rezeki, aneka buah, dan ragam kebaikan yang menjadi logistik dan asupan manusia serta menyenangkan hati mereka.
2. Secara etomologi, kata “Rabi” berarti musim semi sebagai isyarat dan optimistis kalau dikaitkan secara etimologi.
3. Musim semi (Ar-Rabi’) merupakan musim yang paling pas (adil) dan terbaik sebagaimana syariat Nabi Muhammad SAW yang paling adil (paling toleran).
4. Allah SWT memang ingin memuliakan waktu tersebut karena kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Seandainya Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada waktu mulia yang sudah ada, niscaya orang mengira bahwa Nabi Muhammad SAW menjadi mulia karena dilahirkan pada waktu mulia.
Demikianlah empat hikmah kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Editor: Agus Priwandono











