JAKARTA, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) resmi meluncurkan Sekolah Garuda.
Program ini terdiri dari dua skema utama, yakni Sekolah Garuda Baru dan Sekolah Garuda Transformasi, yang berfokus pada pembangunan ekosistem pendidikan unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Pemerintah menargetkan pembangunan 20 Sekolah Garuda Baru hingga tahun 2029. Pada tahun 2025, empat sekolah pertama akan mulai dibangun dan ditargetkan beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027. Selain itu, sebanyak 80 Sekolah Garuda Transformasi akan terbentuk secara bertahap hingga 2029.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, dikutip dari siaran pers menegaskan, Sekolah Garuda merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat Nomor 4, yang menjadi visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam membangun sekolah-sekolah unggul terintegrasi di setiap kabupaten di Indonesia.
“Sekolah Garuda berdiri di atas tiga pilar utama: pemerataan akses pendidikan bagi seluruh anak bangsa, inkubasi calon pemimpin masa depan, dan pendidikan berkualitas yang berpadu dengan pengabdian masyarakat,” ujar Menteri Brian dalam acara bertajuk ‘Mengenal Sekolah Garuda: Harapan Baru Pendidikan Unggul’ yang digelar serentak di 16 wilayah Indonesia.
Pemerintah memperkenalkan Sekolah Garuda Transformasi di 12 sekolah unggulan yang tersebar di berbagai provinsi, antara lain SMAN 10 Fajar Harapan di Aceh, SMA Unggul Del di Sumatera Utara, MAN Insan Cendekia Ogan Komering Ilir di Sumatera Selatan, SMAN Unggulan MH Thamrin di DKI Jakarta, SMA Cahaya Rancamaya di Jawa Barat, SMA Taruna Nusantara dan SMA Pradita Dirgantara di Jawa Tengah.
Kemudian di SMAN 10 Samarinda di Kalimantan Timur, SMAN Banua BBS di Kalimantan Selatan, MAN Insan Cendekia Gorontalo di Gorontalo, SMAN Siwalima Ambon di Maluku, serta SMA Averos Sorong di Papua Barat Daya.
Sementara itu, empat lokasi pembangunan Sekolah Garuda Baru berada di Belitung Timur, Timor Tengah Selatan (Nusa Tenggara Timur), Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara), dan Bulungan (Kalimantan Utara).
Pengenalan serentak di 16 titik wilayah tersebut menandai langkah awal Pemerintah dalam mengimplementasikan model pendidikan unggul yang merata di seluruh Indonesia.
Sekolah Garuda Baru dibangun dari nol di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), serta di daerah yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan unggul. Sekolah ini dirancang sebagai ekosistem pembelajaran inklusif dengan kurikulum berbasis data, sistem berasrama, fasilitas yang efisien, dan program pengabdian masyarakat sebagai bagian integral dari proses belajar.
Sementara itu, Sekolah Garuda Transformasi berfungsi sebagai program penguatan bagi SMA dan MA yang sudah ada. Program ini menitikberatkan pada pembinaan siswa, peningkatan kapasitas guru, serta penguatan tata kelola sekolah agar mampu mencapai standar pendidikan kelas dunia.
Dengan dua skema tersebut, Sekolah Garuda tidak hanya menjadi proyek pembangunan infrastruktur, tetapi juga investasi jangka panjang untuk mencetak generasi Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing global.
Menteri Brian menegaskan bahwa Sekolah Garuda disiapkan untuk melahirkan para “Garuda-Garuda muda”, yaitu generasi petarung yang siap bersaing di tingkat internasional.
“Lawannya bukan lagi sesama anak bangsa, melainkan negara lain. Jika Singapura, China, Jepang, dan Amerika bisa, maka Indonesia juga harus bisa. Sekolah Garuda akan melahirkan pelajar-pelajar tangguh yang siap berkompetisi secara global,” tegasnya.
Dengan kurikulum berstandar internasional, sistem pembelajaran holistik, dan orientasi pada pengembangan karakter serta kepemimpinan, Sekolah Garuda hadir sebagai katalisator transformasi pendidikan nasional.
Program ini diharapkan tidak hanya mencetak talenta unggul kelas dunia, tetapi juga menjadi model pendidikan inspiratif yang mendorong kemajuan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.
Editor: Bayu Mulyana











