SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Provinsi Banten dinobatkan sebagai daerah dengan capaian pemberantasan tuberkulosis (TBC) terbaik di Indonesia. Capaian ini bahkan membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berencana menjadikan Banten sebagai model nasional pemberantasan TBC pada tahun 2026.
Namun menariknya, di balik prestasi tersebut, Banten justru mencatat lebih dari 40 ribu kasus TBC. Meski terlihat tinggi, Kemenkes menyebut angka ini justru kabar baik karena semakin banyak kasus ditemukan, semakin cepat pula pasien bisa disembuhkan melalui program TOSS, yakni Temukan, Obati, Sampai Sembuh.
Wakil Menteri Kesehatan RI dr Benjamin Paulus Octavianus menjelaskan, secara nasional terdapat sekitar 1,09 juta penderita TBC, dengan sekitar 50 ribu kasus berada di Banten. “Yang luar biasa, Banten sudah berhasil menemukan 93 persen kasus aktif. Provinsi lain rata-rata masih di bawah 70 persen,” ungkap Benjamin saat kunjungan kerja di Kota Tangerang, Selasa (11/11/2025).
Menurut Benjamin, tingginya angka temuan bukan pertanda buruk, melainkan bukti bahwa sistem deteksi dini di Banten berjalan efektif. “Semakin cepat ditemukan, semakin cepat pula diobati. Prinsip inilah yang menjadi kunci program TOSS,” ujarnya.
Capaian pengendalian TBC di Banten juga di atas rata-rata nasional. Tingkat terapi pencegahan mencapai 93 persen, melampaui target nasional sebesar 72 persen. “Banten ini terbaik di Indonesia. Strateginya akan kami pelajari untuk diterapkan secara nasional,” kata Benjamin.
Ia menambahkan, keberhasilan Banten juga tampak dari pendekatan komprehensif yang tidak hanya mengobati pasien, tetapi juga keluarga yang berisiko tertular. “Angka perlindungan keluarga di Banten mencapai 52 persen, sementara di provinsi lain masih di bawah 10 persen,” jelasnya.
Benjamin menilai, keberhasilan ini tak lepas dari kerja lintas sektor dan kolaborasi daerah. Saat ini, pemerintah pusat tengah merevisi Peraturan Presiden tentang pemberantasan TBC, dari semula melibatkan 15 kementerian menjadi 35 kementerian dan lembaga. “TBC bukan cuma urusan Kemenkes. Ini juga soal sosial, perumahan, dan gizi. Kalau rumah lembap, kuman bisa hidup berbulan-bulan,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan, Kemenkes akan menyalurkan 24 unit alat rontgen portable untuk memperkuat deteksi dini TBC di lapangan. Banten juga akan menerima penghargaan nasional pada Hari Kesehatan Nasional 2025 atas capaian luar biasa tersebut.
Gubernur Banten Andra Soni menyebut keberhasilan ini sebagai hasil kerja kolektif antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan masyarakat. “Saya berterima kasih kepada seluruh kepala daerah, tenaga kesehatan, dan kader yang telah bekerja keras menemukan serta mengobati pasien TBC,” katanya.
Andra menegaskan, Pemprov Banten berkomitmen untuk menuntaskan program TOSS hingga seluruh warga yang terduga TBC bisa segera diperiksa dan disembuhkan. “Kita ingin 100 persen kasus ditemukan dan diobati sampai sembuh,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti menjelaskan, keberhasilan Banten merupakan hasil kolaborasi lintas sektor. “Gubernur langsung memimpin gerakan desa dan kelurahan siaga TBC. Semua pihak ikut bergerak, termasuk rumah sakit swasta,” ujarnya.
Menurut Ati, Banten memiliki lima kader TBC aktif di setiap desa dan kelurahan, jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan provinsi lain. “Kalau di provinsi lain satu kader satu desa, di kita ada lima. Jadi penemuan kasus bisa lebih cepat dan menyeluruh,” jelasnya.
Hingga tahun ini, Banten telah menemukan lebih dari 40 ribu kasus TBC, atau 93 persen dari target nasional sebesar 50.298 kasus. “Kami tidak berhenti di angka itu. Kami ingin semua terduga TBC bisa segera diperiksa dan diobati,” tambahnya.
Pembiayaan penanggulangan TBC di Banten bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan obat, alat pemeriksaan TCM, serta kegiatan penemuan kasus melalui Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).
Ati menegaskan, strategi Banten menekankan pada kolaborasi lintas sektor dan pemberdayaan masyarakat. “Kita ingin TBC diberantas sampai tuntas, bukan sekadar diobati. Karena itu dukungan sosial, ekonomi, dan gizi masyarakat juga menjadi bagian penting,” tutupnya.(*)











