PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah terus mendorong ketahanan pangan nasional dengan melibatkan petani milenial. Salah satunya Muhammad Teguh Arrosid, petani muda asal Kampung Curuggaru, Desa Kadugemblo, Kecamatan Kaduhejo, Pandeglang.
Teguh menerapkan smart farming untuk meningkatkan produktivitas cabai merah keriting. Ia menilai pertanian sudah harus berbasis teknologi.
“Menanam itu tidak sekadar menanam. Kami memakai agronomi dan teknologi seperti IoT, smart farming, drip irrigation, serta pemupukan dan penyiraman sesuai kebutuhan tanah,” ungkap Muhammad Teguh Arrosid saat ditemui di lahan cabainya, Kamis 27 November 2025.
Ia memaksimalkan lahan melalui intensifikasi. Lahan 1.000 meter persegi yang biasanya hanya 2.000 populasi tanaman kini bisa menampung 4.100 populasi.
“Tanah diuji di laboratorium lalu datanya diinput ke aplikasi. Keluar rekomendasi pemupukan N, P, K sesuai kebutuhan hara. Jadi meski rapat, hasil tetap optimal,” jelasnya.
Target panen pun tak main-main. Teguh menargetkan 1 ton cabai per 1.000 meter persegi atau 10 ton per hektare, lebih tinggi dari rata-rata Banten sekitar 8,5 ton.
“Harga cabai di petani kisaran Rp 50 ribu per kilogram, di pasar bisa Rp 65 ribu ke atas,” katanya.
Selain cabai, kelompok taninya mengembangkan bunga telang yang bisa dipanen setiap hari sebagai tambahan penghasilan.
“Kalau padi empat bulan sekali, cabai tiga bulan sekali, bunga telang panen tiap hari,” ucapnya.
Teguh khawatir masa depan pangan terancam jika anak muda enggan bertani. Ia memegang prinsip: no farmer, no food, no future.
“Kalau anak muda tidak masuk pertanian, siapa yang hasilkan makanan? Siapa yang jaga kehidupan dan masa depan?,” tegasnya.
Ia berharap perhatian pemerintah terhadap pangan dapat mendorong minat generasi muda.
“Anak muda bukan tidak mau, hanya belum mengenal pertanian. Di mana ada kehidupan, pertanian dibutuhkan,” ujarnya.
Teguh mengaku tidak berasal dari keluarga petani, namun terinspirasi tetangganya yang hidup sejahtera dari bertani.
“Tanpa sekolah saja mereka bisa menyekolahkan anak sampai cucu. Apalagi dengan sekolah. Itu yang membuat saya kuliah pertanian,” tuturnya.
Ia menambahkan, dukungan pemerintah untuk petani saat ini sangat besar, mulai dari pelatihan, bantuan benih hingga teknologi pertanian.
“Pemerintah sangat berpihak kepada petani. Tinggal kami memanfaatkan peluang ini sebaik mungkin,” pungkasnya.
Reporter: Moch Madani Prasetia











