PANDEGLANG – Sejumlah petani muda di Kabupaten Pandeglang terus berperan aktif mendukung ketahanan pangan melalui pendekatan pertanian modern dan inovatif. Salah satunya Muhammad Teguh Arrosid, petani milenial asal Kampung Curuggaru, Desa Kadugemblo, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang.
Kehadiran petani milenial seperti Teguh menjadi angin segar bagi dunia pertanian. Mereka dinilai mampu mempercepat regenerasi petani dan menjembatani kesenjangan antara petani muda dan generasi petani senior.
Dengan semangat kewirausahaan, kemampuan mengakses pasar, serta pemanfaatan teknologi pertanian, para petani milenial diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menarik minat generasi muda agar kembali melirik sektor pertanian sebagai bidang yang menjanjikan.

Petani milenial asal Pandeglang, Muhammad Teguh Arrosid, mengatakan bahwa kebijakan pemerintah telah banyak membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Menurut Teguh, Dinas Pertanian Provinsi Banten secara rutin memberikan bantuan benih padi gratis yang telah tersertifikasi melalui Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan (BPSIP).
“Selama dua tahun berturut-turut kami mendapat bantuan benih gratis. Bantuan ini sangat membantu petani karena biaya produksi menjadi lebih rendah dan keuntungan meningkat,” kata Teguh kepada Radar Banten, Rabu (5/11).
Selain bantuan benih, Dinas Pertanian Provinsi Banten juga aktif menyelenggarakan pelatihan dan peningkatan kapasitas bagi petani. Kegiatan tersebut, ujar Teguh, sering digelar di aula dinas maupun di sejumlah gabungan kelompok tani (gapoktan) yang sudah maju.
“Pelatihan ini penting agar petani bisa terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tantangan iklim,” ujarnya.
Teguh menjelaskan, dukungan terhadap sektor pertanian juga datang dari Bank Indonesia Provinsi Banten. Lembaga tersebut berperan dalam pengendalian inflasi melalui pendampingan dan bantuan bagi kelompok tani yang menggarap komoditas strategis seperti cabai merah, bawang merah, dan beras.
“Bank Indonesia punya andil besar dalam menjaga stabilitas harga. Mereka membantu kami meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan pelatihan dan pendampingan,” kata Teguh.
Ia juga menyoroti kebijakan terbaru pemerintah pusat yang menurunkan harga pupuk subsidi hingga 20 persen. Kebijakan ini, menurutnya, menjadi langkah nyata untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Penurunan harga pupuk sangat membantu. Ini bukti pemerintah benar-benar berpihak pada petani,” ujarnya.
Sebagai petani cabai yang tergabung dalam Kelompok Tani Kadugemblo Tiga, Teguh kini mulai menerapkan sistem pertanian berbasis teknologi.
Ia menggunakan metode smart farming dengan konsep Internet of Things (IoT) untuk mengelola irigasi tetes atau smart irrigation yang dapat dikendalikan melalui ponsel.
“Dengan teknologi ini, kami bisa mengatur air sesuai kebutuhan tanaman. Sistemnya mudah dikontrol dan efisien. Jadi bertani tidak lagi identik dengan pekerjaan kotor dan berat,” tuturnya.
Teguh menilai, penerapan teknologi digital dalam pertanian menjadi cara efektif menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
“Banyak anak muda sebenarnya tertarik kalau tahu bahwa pertanian sekarang sudah modern. Dengan adanya smart farming, mereka bisa melihat bahwa bertani itu keren,” terangnya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan kelompok tani terus diperkuat. Menurutnya, kolaborasi yang solid akan membuka peluang besar bagi lahirnya regenerasi petani muda.
“Harapan saya, anak muda semakin paham betapa menjanjikannya dunia pertanian. Kalau semua pihak saling mendukung, pertanian Indonesia pasti akan semakin maju,” imbuhnya. (Dan)











