TANGERANG SELATAN, RADARBANTEN.CO.ID – Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, menilai sinergi ulama dan pemerintah menjadi kunci menjaga keseimbangan pembangunan di Kota Tangerang Selatan. Ia menyampaikan pandangan tersebut bertepatan dengan peringatan HUT ke-17 Tangsel.
Menurut Prof. Tholabi, usia kota tidak hanya mencerminkan kemajuan administratif. Ia menilai usia kota juga harus mencerminkan kedewasaan sosial masyarakat.
“Kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik,” ujarnya, Rabu (26/11/1025).
Ia menekankan kualitas hubungan sosial dan moral publik juga menjadi indikator penting kemajuan kota. Menurutnya, percepatan pembangunan Tangsel perlu diimbangi dengan penguatan nilai sosial.
Tangsel saat ini mengalami pertumbuhan infrastruktur yang pesat. Fasilitas publik terus bertambah. Aktivitas ekonomi dan pendidikan juga berkembang.
Namun, Prof. Tholabi mengingatkan potensi ketimpangan pembangunan. Ia menyebut ketimpangan terjadi saat fisik kota tumbuh cepat, tetapi nilai sosial tertinggal.
Selain itu, ia menilai pembangunan kota perlu ditopang dua kekuatan utama. Kedua kekuatan itu adalah kebijakan pemerintah dan peran ulama.
Ia menyebut pemerintah berperan dalam tata kelola dan pelayanan publik. Sementara itu, ulama berperan menjaga nilai etika dan moral masyarakat.
Menurutnya, kolaborasi kedua pihak harus berjalan beriringan. Kerja sama tersebut perlu dibangun melalui dialog terbuka dan berkelanjutan.
Ia juga menyoroti konsep smart city yang kini berkembang di banyak daerah. Prof. Tholabi menilai kecerdasan kota tidak hanya bertumpu pada teknologi.
Ia menekankan pentingnya akhlak dalam ruang digital. Ia menilai hoaks dan polarisasi menjadi tantangan serius bagi masyarakat modern.
Selain itu, ia juga menyoroti predikat kota religius yang disandang Tangsel. Ia menilai religiusitas tidak cukup diukur dari jumlah rumah ibadah.
Menurutnya, nilai agama harus tercermin dalam kejujuran, keadilan, dan sikap sosial warga.
Dalam pandangannya, Tangsel masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah. Ia menyebut penguatan pelayanan publik berbasis integritas sebagai prioritas.
Ia juga mendorong perluasan ruang terbuka hijau. Selain itu, ia menilai transformasi digital perlu dimanfaatkan untuk pelayanan masyarakat.
Ia juga mengajak ulama dan tokoh masyarakat terlibat dalam perencanaan kebijakan. Keterlibatan ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan pembangunan.
Kepada warga, Prof. Tholabi mengajak untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap kota. Ia juga mengajak warga menjaga etika sosial di ruang nyata dan digital.**











